Pasang Surut Hubungan Muslim Tradisional dan Komunis: 1921-1955

Oleh: Tedi Kholiludin

Pengantar

Kehadiran komunisme di Indonesia kerap dikaitkan dengan pembentukan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) sekitar tahun 1914. Namun sebenarnya  sebelum kehadiran ISDV, sudah terjadi kontak antara kaum pelajar Indonesia di Belanda dengan partai sosialis yang bernama Partai Pekerja Sosial Demokrat atau Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SADP) yang didirikan tahun 1894. partai ini yang sejak awal berdirinya mengagendakan peningkatan standar hidup rakyat Indonesia dan membela kemajuan rakyat Indonesia. (Mintz, 2002: 30)

Orang Indonesia yang ditarik ke dalam tubuh SADP antara lain Dr. Cipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1913, mereka bergabung dengan SDAP.

Konteks dimana komunisme hadir di Indonesia pertama kali bisa dikatakan sebagai konflik pahit (di kalangan kaum kolonial) antara pihak yang meyakini bahwa pendekatan dengan rasa simpati terhadap gerakan-gerakan politik Indonesia akan menjamin perkembangan koloni yang sehat, melawan pihak yang takut kebebasan politik akan menjadi sebuah Kotak Pandora, apabila dibuka akan terjadi revolusi. Pendukung politik etis, akhirnya mengalami kekalahan, dan pemberontakan komunis pada 1926-1927 mengakhiri usaha-usaha pihak Belanda untuk berkompromi dengan pihak pergerakan perlawanan dan meninggalkan kelompok politik Indonesia tanpa ada jalan tengah nyata antara revolusi dan dilepaskannya masalah pencapaian kemerdekaan. (Mc.Vey, xxii) Continue reading

Fundamentalisme Agama dan Gejala Desekularisasi Dunia

Oleh: Tedi Kholiludin

 

Jejak Sekularisasi: Sebuah Pengantar

Disadari atau tidak, kehidupan beragama dalam lanskap negara lengkap dengan segenap tertib hukum yang dimilikinya, sebenarnya sedang bergerak pada jalur sekularisasi. Meski agama dan kepercayaan adalah sesuatu yang bersifat hakiki dan sangat personal, tetapi ruang yang dihadapi adalah kenyataan yang sekuler. Ruang hukum dan negara itulah yang sekuler. Karenanya fenomena ini penulis sebut sebagai proses beragama di ruang sekuler.

Proses ini nyata dalam kehidupan kita karena negara memang harus bergeser dari peran ecclesiastical ke political authority.[1] Harvey Cox, yang dianggap memiliki tesis cukup otoritatif tentang makna dan substansi sekularisasimencontohkan bahwa ketika sekolah atau rumah sakit bergerak dari fungsi gerejawi ke fungsi administrasi umum, maka inilah yang disebut sebagai sekularisasi.[2]

Dalam”The Secular City”, Cox menunjukan bahwa ada tiga komponen penting dalam Bibel yang menjadi kerangka asas kepada sekularisasi. Pertama, adalah disenchantment of nature yang dikaitkan dengan penciptaan (creation). Kedua, desacralization of politics dengan migrasi besar-besaran kaum Yahudi dari Mesir. Ketiga, deconsecration of values yang ditandai oleh Perjanjian Sinai melalui penghancuran segala bentuk pemberhalaan.[3] Continue reading

Kesinambungan atau Keterputusan: Gerakan Perempuan Nahdlatul Ulama tahun 1950an-1990an

Oleh: Makrus Ali

Alumnus Pascasarjana Sejarah FIB UGM

Dibandingkan dengan gerakan perempuan lainnya, gerakan perempuan Nahdatul Ulama sedikit terlambat. Manifestasi gerakan perempuan Nahdlatul Ulama ditandai dengan berdirinya Muslimat NU tahun 1946. Secara struktural Muslimat merupakan kepanjangan tangan Nahdlatul Ulama dalam bidang pengelolaan isu perempuan. Di luar jalur struktural, gerakan perempuan NU tumbuh seiring menguatnya gerakan perempuan di Indonesia. Aktifis-aktifis perempuan yang merepresentasikan NU terlibat aktif dalam gender discourse pada era 1990an.

Paper ini menganalisa sejauh mana konsistensi gerakan perempuan NU baik struktural maupun non-struktural dalam menyikapi persoalan perempuan. Konsistensi gerakan perempuan NU tidak bisa dilepaskan dengan dinamika yang berlangsung baik secara internal maupun eksternal  NU. Tarik menarik antara kubu konservatif dan moderat dalam tubuh NU memengaruhi arah gerakan perempuan NU. Kondisi ini seringkali melahirkan ambivalensi gerakan perempuan NU. Sehingga mengakibatkan bentuk dari gerakan perempuan NU pada satu periode tertentu terlihat berbeda pada periode selanjutnya. Tidak jarang menunjukan sikap yang kontradiktif. Terkait penilaian konsistensi gerakan perempuan NU, paper ini akan fokus pada dua hal utama. Pertama relasi perempuan dan agama, kedua perempuan dan kepentingan publik.

Keywords: Sejarah Perempuan, Feminisme, Nahdlatul Ulama.

Continue reading

Pantekostalisme dan Islam: Berjumpa di Mimbar Gereja

Pdt. Elia Tambunan S.Th, M.Pd[1]

Pendahuluan

Di negeri ini, ketika bicara Islam dan Kristen seolah-olah otak kita langsung terbingkai dalam logika; mayoritas berhadap-hadapan dengan minoritas. Lalu, konsepsi yang mengikuti selanjutnya seringkali; minoritas harus mengalah dan berkorban, mayoritas harus selalu menang dan acapkali mau menang sendiri.[2]  Tidak heran, Myengkyo Seo mengolok-olok kita, ketika hari ini “kita bicara Indonesia kontemporer,[3] praktek perselisihan agama merupakan salah satu diskusi akademik yang paling hangat dan tidak bosan-bosannya.[4] Jika hal itu benar adanya, maka artinya ketika bicara soal kedua komunitas beragama ini, seolah lebih banyak konflik ketimbang damainya. Seolah tidak lagi ada alternatif perjumpaan[5] lain. Di mana lagikah kita bisa bertemu muka dan saling memandang mata untuk melihat ke dalam isi hati, yang niatnya memang betul-betul ihklas dan ridlo untuk saling memuliakan?

Memang, setiap orang beragama diwarisi panggilan dakwah atau menginjili masyarakat. Namun, penting untuk ditimbang-timbang secara arif, bagaimana caranya bila keadaan masyarakat itu memang sudah sangat berbeda teks agama, selebrasi, ekspresi dan pengalaman keagamaanya? Bagaimana lagi cara lain yang bisa ditempuh untuk mengkomunikasikan sistem nilai iman masing-masing supaya “sampai bisa dipahami orang lain? Bagaimana pula cara menebarkan nilai ketuhanan setara dengan kemanusiaan ke orang yang beda keyakinan? Masihkah ada contoh nyata yang bisa disodorkan disini?

Kali ini secara empiris, saya ingin tunjukkan adanya secuil laku dari orang-orang Pentakosta dan Islam di Indonesia[6] yang secara tulus dan bebas lepas untuk beragama, yakni; ustazd bisa jadi “imam sholat” di gereja, ustadz bisa bertausiah dan syiar di gereja dengan bebas lepas secara alami, tanpa direkayasa atau dibuat-buat. Continue reading

Islam & Politik di Komunitas Muslim: Analisis Historis-Kritis

Abraham S. Wilar

Ketua Asosiasi Teolog Indonesia (ATI)

 

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan suatu deskripsi historis-kritis-analitis tentang Islam dan Politik di Komunitas Muslim. Artinya, deskripsi tulisan ini akan mengacu ke sejumlah fakta-fakta historis yang terdapat di sejarah Islam, dan sejarah dunia. Di saat merujuk fakta-fakta historis tersebut, tulisan ini menggunakan perspektif pilihan penulis sebagai angle ulasan, yaitu historis-kritis-analitis. Akibatnya, deskripsi yang ada di tulisan ini akan mengandung ‘subyektivitas’ penulis, yang mungkin berbeda dengan deskripsi dari penulis lain yang membahas topik serupa yang akan pembaca temukan di tempat lain, yaitu historis, kritis, dan analitis.

Karena tulisan ini sejak awalnya merupakan suatu deskripsi historis-kritis-analitis tentang Islam dan Politik di Komunitas Muslim, maka isi dan format tulisan akan mengambil periode mula-mula dari Komunitas Muslim sebagai Titik Berangkat ulasan, dan kemudian ulasan akan menjangkau Komunitas Muslim di Indonesia, khususnya anggota dari kelompok Muslim yang aktif di arena politik Indonesia dengan menggunakan Keislaman sebagai Titik Pijak dan Sumber Teori dan Praktek Politik di negeri ini. Dengan kata lain, tulisan ini menggunakan formula Pembabakan dari metode historika, dan di dalam mengurai informasi-informasi historis itu tulisan ini akan menggunakan formula analitis-kritis.

Tulisan ini akan memaparkan Islam & Politik di Era Kontemporer sebagai Latarbelakang untuk mengurai materi ini. Memulai uraian dengan membahas Islam dan Politik di Era Kontemporer berguna untuk meneropong akar-akar atau ide-model yang ada di periode mula-mula, dan dari sana melihat perkembangan dari topik ini sejak periode tersebut sampai ke era kontemporer. Dengan demikian, tulisan ini berusaha melihat fenomena Islam & Politik di tengah komunitas Muslim lebih luas, dan lebih utuh; tidak hanya memusatkan Islam & Politik hanya pada satu kelompok atau periode saja. Continue reading