Islam & Politik di Komunitas Muslim: Analisis Historis-Kritis

Abraham S. Wilar

Ketua Asosiasi Teolog Indonesia (ATI)

 

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan suatu deskripsi historis-kritis-analitis tentang Islam dan Politik di Komunitas Muslim. Artinya, deskripsi tulisan ini akan mengacu ke sejumlah fakta-fakta historis yang terdapat di sejarah Islam, dan sejarah dunia. Di saat merujuk fakta-fakta historis tersebut, tulisan ini menggunakan perspektif pilihan penulis sebagai angle ulasan, yaitu historis-kritis-analitis. Akibatnya, deskripsi yang ada di tulisan ini akan mengandung ‘subyektivitas’ penulis, yang mungkin berbeda dengan deskripsi dari penulis lain yang membahas topik serupa yang akan pembaca temukan di tempat lain, yaitu historis, kritis, dan analitis.

Karena tulisan ini sejak awalnya merupakan suatu deskripsi historis-kritis-analitis tentang Islam dan Politik di Komunitas Muslim, maka isi dan format tulisan akan mengambil periode mula-mula dari Komunitas Muslim sebagai Titik Berangkat ulasan, dan kemudian ulasan akan menjangkau Komunitas Muslim di Indonesia, khususnya anggota dari kelompok Muslim yang aktif di arena politik Indonesia dengan menggunakan Keislaman sebagai Titik Pijak dan Sumber Teori dan Praktek Politik di negeri ini. Dengan kata lain, tulisan ini menggunakan formula Pembabakan dari metode historika, dan di dalam mengurai informasi-informasi historis itu tulisan ini akan menggunakan formula analitis-kritis.

Tulisan ini akan memaparkan Islam & Politik di Era Kontemporer sebagai Latarbelakang untuk mengurai materi ini. Memulai uraian dengan membahas Islam dan Politik di Era Kontemporer berguna untuk meneropong akar-akar atau ide-model yang ada di periode mula-mula, dan dari sana melihat perkembangan dari topik ini sejak periode tersebut sampai ke era kontemporer. Dengan demikian, tulisan ini berusaha melihat fenomena Islam & Politik di tengah komunitas Muslim lebih luas, dan lebih utuh; tidak hanya memusatkan Islam & Politik hanya pada satu kelompok atau periode saja. Continue reading

Ateisme, Teisme, dan Bahasa

Oleh: Donny Danardono

Pengajar filsafat di FH dan PMLP Unika Soegijapranata

 

Hubungan antara manusia dengan ‘realitas adi-duniawi’ sesungguhnya tak hanya melalui konsep transendensi Tuhan transendens atau ateisme―konsep yang menolak keberadaannya itu. Di berbagai agama Timur―seperti Hinduisme, Buddhisme, Daoisme atau Kejawen―hubungan antara manusia dengan ‘realitas adi-duniawi’ berlangsung baik dalam bentuk monisme (Tuhan dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan) maupun dualisme (Yin-Yang, sehingga dalam hidup seseorang harus mengupayakan keselarasan. Keselarasan adalah Dao, jalan, asal-usul, atau hakekat realitas).

Tema mengenai “Tuhan transendens dan ateisme” memang menarik. Sebab topik inilah yang senantiasa mewarnai cara manusia modern-rasional berhubungan dengan sesama manusia dan lingkungan alamnya. Bagi mereka persoalan Tuhan bukan hanya persoalan iman, tapi juga rasio.

Transendensi Tuhan

Adalah bangsa Israel―yang seumur-umur pernah menjadi budak bangsa Mesir―yang pertama kali memunculkan konsep transendensi Tuhan. Bangsa Israel merasa, bahwa Yahwe melalui nabi Musa telah membebaskan mereka dari perbudakan itu. Bahkan setelah itu mereka menganggap Yahwe senantiasa menyertai 40 tahun pengembaraan mereka dan menghantarkan mereka ke tanah terjanji.

Pada saat itu Yahwe belum menjadi satu-satunya Allah. Ia menjadi satu-satunya Allah melalui berbagai peristiwa kekerasan yang menimpa bangsa Yahudi, yaitu ketika mereka kehilangan Kenisah di Yerusalem dan tanah terjanji itu. Continue reading

Islam dan Seksualitas: Tentang Prostitusi dalam Literatur Fikih

Oleh: Khoirul Anwar

Bagi yang akrab dengan literatur keislaman klasik (baca: kitab kuning) akan dengan mudah menjumpai keterangan tentang kehidupan seksualitas lelaki yang memiliki porsi lebih banyak dibanding perempuan, bahkan seksualitas perempuan nyaris tidak mendapat halaman dalam kitab-kitab yang ditulis puluhan abad silam itu. Dalam literatur hukum Islam (fikih) terdapat pembahasan tentang perempuan pemuas seks lelaki atau biasa disebut dengan “ammat” atau “milku al-yamîn”.

Asy-Syâfi’î dalam karya fikihnya, al-Umm, mengatakan; “Fa lâ yahillu al-‘amalu bi adz-dzakari illâ fî az-zaujati au fî milki al-yamîn (lelaki tidak boleh memainkan alat kelaminnya kecuali kepada istri atau budak yang dimilikinya)”.[1] Pernyataan demikian berdasarkan pada QS. Al-Mu`minûn 5-6: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap ‘isteri-isteri’ mereka atau ‘budak’ yang mereka miliki (mâ malakat aimânuhum).”

Melalui ayat ini asy-Syâfi’î juga merumuskan hukum seorang perempuan tidak boleh melakukan hubungan intim dengan budak lelaki yang dimilikinya, karena posisi perempuan adalah orang yang dinikahi (mankûhah), bukan orang yang dapat menikahi (nâkihah). Jadi, hukum boleh menyalurkan hasrat seksual kepada “manusia yang dimiliki (milku al-yamîn)” tertentu bagi kaum lelaki.

Dalam teks keislaman, perempuan diposisikan sebagai objek (maf’ûl) bagi lelaki, sehingga pantas jika dalam persoalan ini asy-Syâfi’î memberikan hukum tidak setara antara lelaki dan perempuan. Continue reading

Menelusuri Akar-Akar Eksklusivisme Agama Abrahamik

Oleh: Prof. Pdt. John A. Titaley, Th.D

Eksklusivisme agama adalah sikap yang menganggap agama tertentu saja yang memiliki kebenaran sejati sedangkan agama-agama lainnya tidak. Akibatnya, penganut agama tersebut adalah manusia yang benar sedangkan penganut agama-agama lainnya tidak. Dengan demikian, tindakan kekerasan bahkan pemusnahan dapat dibenarkan terhadap yang lain itu. Dari sisi ini, dia bisa menjadi salah satu akar yang dapat menimbulkan berbagai sikap yang tidak toleran, sehingga perdamaian sulit dicapai. Hidup bersama secara damai sulit tercipta.

Rousseau mengatakan bahwa sikap seperti ini dimulai dalam sejarah manusia oleh Keyahudian dengan monoteisme dalam diri Yahwehnya.[1] Ketika mereka ditawan oleh Babylonia, mereka menolak menyembah dewa lain selain Yahweh mereka sendiri, sehinga muncullah pertama kali dalam sejarah perang agama, perang antara dewa suatu bangsa dengan dewa bangsa lainnya. Dapat dipahami kalau sikap seperti ini muncul dari agama monoteisme. Akibat langsung dari monoteisme adalah penolakan adanya keberadaan dewa atau ilah lain selain ilah atau dewanya sendiri.

Kekristenan sebagai salah satu dari agama-agama Abrahamik, itu sendiri memiliki sisi yang eksklusif juga. Pandangan Gereja extra ecclesia nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) adalah contoh yang sangat nyata. Nampaknya hal serupa itu juga ada dalam agama Islam sebagai salah satu agama Abrahamik lainnya. Bukan hanya di kalangan para penganut agama-agama Abraham warisan itu terasa. Thomas Cahil sedemikian bangganya akan warisan itu, sehingga memasukkan ke dalam daftar ini bangsa-bangsa Barat dan non-Barat yang telah dipengaruhi oleh pandangan dunia keYahudian ini.[2] Dalam batas-batas tertentu ada benarnya juga. Akan tetapi sayangnya, termasuk dalam hadiah itu adalah eksklusivisme ini. Karenanya eksklusvisme itu harus dikaji ulang.

Oleh karena itu ada baiknya pula akar eksklusivisme yang diwarisinya dilihat, yaitu eksklusivisme Yahudi yang untuk maksud analisis ini disebut Israel Alkitab.[3] Dalam bagian ini, akan dilihat sejenak eksklusivisme yang dimiliki agama Yahudi yang “diwariskan” dalam wujud Alkitab Ibrani, yang Kekristenan menyebutnya Perjanjian lama. Continue reading

Pondok Damai; Praktik Dialog Antar Agama di Semarang

Oleh: Ubbadul Adzkiya’

 

Pengantar

Negara kita, Indonesia adalah bangsa multikultural yang tersusun dari berbagai etnis, dialek bahasa, dan budaya, serta multiagama. Agama-agama besar dunia tumbuh dan berkembang di Nusantara ini, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Oleh karenanya kehidupan yang harmonis antar pemeluk agama sangat diharapkan menjadi pemandangan dan praktek yang elok di negara kita.

Indonesia dengan masyarakat yang beragam dan terdiri dari berbagai agama serta keyakinan ini mempunyai tantangan besar dalam merawat dan meramu keragaman ini untuk menjadi sebuah tatanan sosial yang arif. Hidup rukun antar umat beragama menjadi kewajiban negara untuk menciptakannya, karena dengan kerukunan menjadi salah satu penentu berjalannya sistem pemerintahan yang efektif. Meski terkadang negara juga menjadi “pemicu” terjadi konflik di masyarakat bawah.

Keragaman agama yang dianut oleh penduduk Indonesia, di satu sisi merupakan khazanah kekayaaan, dan sekaligus kekuatan bangsa. Namun di sisi lain dapat berpotensi konflik sosial, jika lemah dalam wawasan multikultural, serta adanya sifak eksklusifisme dalam bergama. Kerusuhan hingga konflik yang terjadi di masyarakat selama ini disebabkan oleh faktor agama dan non agama. Faktor non agama dalam bentuk kepentingan sosial, ekonomi dan politik. Continue reading