Pekerja Seks dan Jalan Tengah Problem Lokalisasi: Perspektif Sejarah dan Ushul Fiqh

Oleh: Khoirul Anwar

Prolog

Keberadaan lokalisasi di mata masyarakat dipandang sebagai “tempat kotor” dan “tempat orang-orang yang berdosa”, namun secara diam-diam tidak sedikit masyarakat yang ikut serta menikmati keberadaannya, mulai dari yang mencari kenikmatan esek-esek, mengais rizki dengan menjual makanan dan minuman, hingga berprofesi merawat kesehatan para penghuninya (pelacur atau pekerja seks). Singkatnya, keberadaan lokalisasi oleh masyarakat dibenci sekaligus disukai.

Stereotipe terhadap lokalisasi biasanya muncul dari anggapan bahwa tempat tersebut bertentangan dengan ajaran agama, sehingga pantas jika tempat ini sering menjadi sasaran amuk sebagian umat Islam dengan dalih amar ma’ruf nahy munkar. Sesungguhnya asumsi demikian terlalu gegabah, masyarakat yang membenci keberadaannya dan hendak membubarkan memiliki pandangan yang sporadis dan simplistis, mereka hanya menilai dari satu sisi, yakni bertentangan dengan ajaran agama yang melarang perzinaan, sehingga melokalisir perzinaan tidak lebih dari menyediakan tempat bagi para pengobral dosa.

Lokalisasi di dalamnya tersimpan permasalahan yang sangat kompleks, tidak cukup jika melihatnya dari satu sisi, yakni menjadi tempat perzinaan, tapi harus dilihat dari berbagai sisi dengan seobjektif mungkin, yakni dengan melihat latar di balik keberadaannya di satu sisi, dan penyebab yang mengantarkan seseorang menjadi pemuas seks bayaran di sisi lain. Continue reading