Fundamentalisme Agama dan Gejala Desekularisasi Dunia

Oleh: Tedi Kholiludin

 

Jejak Sekularisasi: Sebuah Pengantar

Disadari atau tidak, kehidupan beragama dalam lanskap negara lengkap dengan segenap tertib hukum yang dimilikinya, sebenarnya sedang bergerak pada jalur sekularisasi. Meski agama dan kepercayaan adalah sesuatu yang bersifat hakiki dan sangat personal, tetapi ruang yang dihadapi adalah kenyataan yang sekuler. Ruang hukum dan negara itulah yang sekuler. Karenanya fenomena ini penulis sebut sebagai proses beragama di ruang sekuler.

Proses ini nyata dalam kehidupan kita karena negara memang harus bergeser dari peran ecclesiastical ke political authority.[1] Harvey Cox, yang dianggap memiliki tesis cukup otoritatif tentang makna dan substansi sekularisasimencontohkan bahwa ketika sekolah atau rumah sakit bergerak dari fungsi gerejawi ke fungsi administrasi umum, maka inilah yang disebut sebagai sekularisasi.[2]

Dalam”The Secular City”, Cox menunjukan bahwa ada tiga komponen penting dalam Bibel yang menjadi kerangka asas kepada sekularisasi. Pertama, adalah disenchantment of nature yang dikaitkan dengan penciptaan (creation). Kedua, desacralization of politics dengan migrasi besar-besaran kaum Yahudi dari Mesir. Ketiga, deconsecration of values yang ditandai oleh Perjanjian Sinai melalui penghancuran segala bentuk pemberhalaan.[3]

Jadi menurut Cox, sekularisasi menjadi semacam pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari dunia lain menuju dunia kini. Sekularisasi, menurut Cox menjadi konsekuensi autentik dari kepercayaan terhadap Bibel.[4]

Dari sini, Cox berusaha membedakan sekularisasi dengan sekularisme. Jika sekularisasi bersifat open-ended, dalam arti menunjukkan sifat keterbukaan dan kebebasan bagi aktivitas manusia untuk proses sejarah, maka sekularisme bersifat tertutup. Dalam pengertian bukan merupakan sebuah proses lagi, akan tetapi telah menjadi semacam paham atau ideologi.[5]

Jika dibandingkan secara sekilas, mengenai substansi makna yang dikandung dalam kata sekularisasi dalam pandangan Cox ada yang berbeda antara sekularisasi dan sekularisme. Sekularisasi mengimplikasikan proses sejarah, hampir pasti tak mungkin diputar kembali. Masyarakat perlu dibebaskan dari kontrol agama dan pandangan hidup metafisik yang tertutup (closed metaphysical worldviews). Jadi, intinya, sekularisasi adalah perkembangan yang membebaskan (a liberating development).

Sebaliknya, sekularisme adalah nama sebuah ideologi. Ia adalah sebuah pandangan hidup baru yang tertutup yang fungsinya sangat mirip dengan agama. Selain itu, sekularisasi itu berakar dari kepercayaan Bible. Pada taraf tertentu, ia adalah otentifikasi dari implikasi terhadap kepercayaan Bible dalam sejarah Barat. Oleh sebab itu, sekularisasi berbeda dengan sekularisme  yaitu idiologi (isme) yang tertutup. Menurut Cox, sekularisme membahayakan keterbukaan dan kebebasan yang dihasilkan oleh sekularisasi. Makanya, sekularisme harus diawasi, diperiksa dan dicegah untuk menjadi idiologi negara.[6]

Secara historis sekularisasi tidak bisa dilepaskan dari gelombang reformasi. Banyak sejarawan Barat berpendapat bahwa sejarah pemikiran Kristen modern bermula dengan gerakan pada abad tujuh belas dan delapan belas, dikenal sebagai Pencerahan (enlightenment). Gerakan filsafat ini merupakan gerakan filsafat yang bercirikan sikap rasionalis, naturalis, dan deistis. Pada zaman itu manusia mencari cahaya baru dalam akalnya. Semboyan zaman pencerahan itu sendiri adalah saphere aude atau hendaklah berani berpikir sendiri.[7]

Renaissance yang mengakhir masa kegelapan ini mulai didobrak pada abad ke-16 melalui sekularisasi terhadap gereja, dengan Reformasi (perbaikan terhadap penyimpangan gereja Katolik), Renaissance (kelahiran kembali dengan menghidupkan warisan Yunani-Romawi), dan Humanisme (menjadikan manusia, bukan agama, sebagai penentu segala sesuatu). Abad-abad selanjutnya (abad ke-17 s/d ke-19) merupakan kelanjutan dan pematangan sekularisasi dengan adanya Abad Pencerahan (Aufklarung, Enlightenment).

Dalam bidang pemikiran, Pencerahan ini ditandai sebagai era pemikiran modern dari ”Novum Organum” Francis Bacon (1620) sampai ke ”Critique of Pure Reason” Immanuel Kant (1781). Pencerahan inilah yang kelak menjadi apa yang disebut dengan Zaman Modern. Pandangan hidup zaman modern sudah berbeda paradigmanya dengan pandangan hidup zaman pertengahan.

Perubahan paradigma ini mendorong para teolog Kristiani untuk menafsirkan kembali agama Kristen. Ini harus dilakukan supaya Kristen akan tetap relevan dengan perkembangan kehidupan masyarakat modern. Hasilnya, para teolog Eropa dan Amerika seperti Ludwig Feurbach (1804-1872), Karl Barth (1886-1968), Dietrich Bonhoeffer (1906-1945), Paul van Buren, Thomas Altizer, Gabriel Vahanian, William Hamilton, Woolwich, Werner and Lotte Pelz, dan beberapa lainnya, menggagas revolusi teologi radikal.[8]

Mereka digelar sebagai para “teolog kematian Tuhan” (death-of God theologians). Mereka menegaskan bahwa untuk menghadapi sekularisasi, ajaran Kristiani harus disesuaikan dengan pandangan hidup sains modern. Mereka membuat penafsiran baru terhadap Bible. Mereka menolak penafsiran lama yang menyatakan bahwa ada alam lain yang lebih hebat dan lebih agamis dari alam ini.

Dari sinilah akar kehadiran sekularisme dalam tradisi pemikiran masyarakat Barat. Karenanya dapat dipahami, bahwa proses sekularisasi adalah hal yang niscaya bagi Peradaban Barat yang Kristen. Tanpa sekularisasi, Barat akan tetap dalam kemunduran dan kegelapan di bawah tindasan gereja Kristen.[9]

Robert Audi menjelaskan bahwa dari sekularisme diturunkan tiga prinsip dalam kehidupan bernegara, yaitu prinsip kebebasan (libertarian), prinsip kesetaraan (equality), dan prinsip netralitas (neutrality). Berdasarkan prinsip terakhir, suatu negara haruslah mengambil sikap netral di antara agama-agama.[10] Implikasinya, jika negara mengutamakan atau mengadopsi suatu agama tertentu (di antara beragam agama) untuk mengatur kehidupan bernegara, berarti negara itu telah melanggar satu prinsip dasar sekulerisme.

Harvey Cox dengan teologi sekularnya itu seperti ingin menjembatani dua kubu yang paradoks secara ektrim, yakni teologi konservatif dan teologi radikal. Cox mengkritik pendapat para teolog kematian Tuhan, karena mereka keliru karena dua faktor. Pertama, mereka telah menjadikan pandangan hidup saintifik modern sebagai parameter, padahal humanisme saintifis modern itu beraneka-ragam. Selain itu, para saintis pun mengakui bahwa metodologi saintifik bersifat operasional dan berada dalam ruang lingkup yang terbatas. Oleh sebab itu, metodologi saintifik tidak menawarkan “pandangan hidup’. Kedua, pendapat teolog radikal terhadap teologi Kristen tidak kritis dan ahistoris. Mereka menganggap isi doktrin Kristen tidak berubah, maka perlu dibuang.

Dalam pandangan Cox sebuah negara atau kota yang bercorak sekuler (dalam bahasanya Cox, Technopolis) paling tidak memiliki dua corak.[11] Pertama, pragmatisme. Dunia, dalam kacamata pragmatisme dilihat bukan sebagai suatu kesatuan metafisik, tetapi sebagai rangkaian masalah dan proyek. Kedua, profanitas. Dengan mengatakan profan, Cox tidak bermaksud untuk memberi kesan bahwa manusia sekuler adalah sacrilegious, tetapi ia adalah seorang yang unreligious.

Counter Sekularisasi: Desekularisasi

Meski sekularisasi telah dianggap sebagai salah satu biang keberhasilan majunya peradaban, tetapi kenyataan yang dihadapi manusia abad 21, justru berkebalikan. Kata Peter L. Berger, dunia sekarang tidak lagi mengalami proses sekularisasi tetapi justru sebaliknya yakni desekularisasi.

Desekularisasi meniscayakan bahwa proses modernisasi tidak hanya membuat orang-orang sekuler dan meninggalkan agama di satu sisi, tetapi di sisi lain modernisasi juga membuat simbol-simbol keagamaan semakin memamahbiak.

Dalam ”Globalization”, Malcolm Waters mengatakan bahwa globalisasi memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak, terhadap penyebaran fundamentalisme.[12] Efek langsung yang dirasakan oleh kaum fundamentalisme menurut Waters karena, (i) universalisasi budaya barat memaksa partikularisme lokal melegitimasinya dengan bahasa mereka. (ii) globalisasi negara-bangsa menolak legitimasi dari kesetiaan terhadap Gereja dan Tuhannya. (iii) sekularisasi dan abstraksi hukum menjadi basis bagi ketertiban sosial. (iv) menguatkan fakta bahwa dunia adalah pluralistik dan didasarkan atas  pilihan, dan di sana tidak ada satu budaya yang superior.[13]

Disitulah desekularisasi menjadi anak sejarah yang tidak bisa dipandang sebelah mata eksistensinya. Peter L. Berger merupakan orang yang menyadari betul proses desekularisasi ini. Secara tulus, ia mengakui kesalahannya yang mengatakan bahwa secara sederhana teori sekularisasi bermaksud menunjukkan bahwa modernisasi menyebabkan merosotnya agama, baik dalam ranah masyarakat maupun individu.[14]

Menurut Berger, disinilah ia salah menganalisis fenomena tersebut. Meski modernisasi telah menghasilkan sekularisasi, tetapi pada waktu bersamaan, modernisasi juga membangkitkan apa yang ia sebut sebagai powerful movements of counter-secularization.[15]

Bagi Berger, jalan menghadirkan counter sekularisasi itu bisa dilihat dari dua strategi. Pertama, revolusi agama (religious revolution). Dengan melakukan revolusi, berarti jalan yang diupayakan adalah dengan merubah masyarakat secara menyeluruh dan menciptakan model agama modern sebagai tandingan. Revolusi Iran adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan ini. Kedua menciptakan subkultur agama (religious subcultures). Cara ini dinilai efektif untuk menangkal pengaruh dari masyarakat luar.[16] Pendek kata, mereka menciptakan pagar-pagar pembatas antara dunia mereka dengan dunia modern. Amish di Pensylvania adalah contoh untuk gerakan ini.

Berger mengkritik pandangan yang menyatakan kala sekularisasi berhadapan dengan fundamentalis, kaum sekuler akan memenangkan pertarungan. Dan ini berarti bahwa tesis sekularisasi bisa dipertahankan.[17] Baginya, dunia abad nanti sekalipun tidak akan berkurang religiusitasnya dibandingkan dengan abad sekarang.

Pertanyaan kemudian, bagaimana situasi desekularisasi yang tengah mengalami pertumbuhan dahsyat tersebut bisa dijembatani? Salah satu kekhawatiran yang timbul dari proses desekularisasi ini adalah bergeraknya konservatisme ke ranah radikalisme. Terlepas bahwa adanya kemungkinan konspirasi politik di dalamnya, tetapi bahwa bertebarannya simbol-simbol keagamaan yang diikuti oleh sikap intoleran adalah efek samping dari desekularisasi.

Maka dari itu, penulis mengajukan dua pasang jembatan konseptual yang bisa dijadikan sebagai medan dimana respon terhadap modernitas itu bisa diajak duduk bersama.

Pertama, Dialog atau lebih tepatnya ”Deep-Dialogue”. Terhadap term ini, model dialog yang hendak diintrodusir merujuk pada paparan Leonard Swidler dan Paul Mojzes. Dialog menjadi kata kunci di sini, karena tidak bisa disangkal, bahwa globalisasi, dengan seperangkat kecanggihan sains dan tekhnologi yang dihasilkannya, terbukti telah menciptakan banyak peradaban di dunia.

Atas dasar itulah Samuel P. Huntington kemudian meramalkan akan timbul benturan antar peradaban.[18] Benturan ini, tidak bisa dielakan karena, kata Huntington, peradaban merupakan entitas kultural. Desa, kawasan, etnis, kebangsaan, kelompok agama semuanya memiliki perbedaan budaya dalam heterogenitas level yang berbeda.[19] Dengan demikian, peradaban adalah kelompok budaya tertinggi dari masyarakat dan tingkatan yang paling luas dari identitas budaya yang menjadi ciri manusia dari manusia lainnya.

Huntington kemudian mengatakan bahwa identitas peradaban akan meningkat pada masa yang akan datang. Ada delapan peradaban besar yakni Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavic-Orthodox, Amerika Latin dan mungkin Peradaban Afrika.[20] Benturan peradaban akan bisa dilihat dalam dua level. Pertama, pada mikro level, kelompok yang berseberangan memungkinkan munculnya kekerasan, yang muncul diantara mereka. Kedua, pada level makro Negara-negara dari peradaban yang berbeda akan bersaing untuk mempersiapkan kekuatan ekonomi dan militer, dan secara kompetitif mereka juga mempromosikan nilai politik dan keagamaannya.[21]

Prediksi Huntington di atas, meski tidak sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan, tentu sangat membantu. Sebagai sebuah misteri politik, benturan peradaban itu sangat mungkin terjadi. Apalagi Huntington secara khusus menyoroti kemungkinan benturan dahsyat akan terjadi antara Barat dan Islam yang dalam sejarah, mereka telah melahap 1300 tahun sebagai masa-masa kelam. Berangkat dari sini, maka penulis menganggap penting membangun kembali dialog antar peradaban.

Pemaparan Berger, jika dikaitkan dengan fenomena fundamentalisme agama muncul sebagai bagian dari respon terhadap gejala sekularisasi. Atau dalam bahasanya Berger, fundamentalisme ini sangat erat dengan apa yang ia sebut sebagai religious revolution. Inilah yang kemudian bisa diidentifikasi sebagai akar dari gejala fundamentalisme agama.

Dua Jembatan Penengah: Dialog dan Transformasi

Pertanyaan kemudian, bagaimana situasi desekularisasi yang tengah mengalami pertumbuhan dahsyat tersebut bisa dijembatani? Salah satu kekhawatiran yang timbul dari proses desekularisasi ini adalah bergeraknya konservatisme ke ranah radikalisme. Terlepas bahwa adanya kemungkinan konspirasi politik di dalamnya, tetapi bahwa bertebarannya simbol-simbol keagamaan yang diikuti oleh sikap intoleran adalah efek samping dari desekularisasi.

Maka dari itu, penulis mengajukan dua pasang jembatan konseptual yang bisa dijadikan sebagai medan dimana respon terhadap modernitas itu bisa diajak duduk bersama.

Swidler dan Mojzes mengajukan prinsip yang mereka sebut sebagai ”deep-dialogue”.[22] Artinya apa yang menjadi dasar dari fakta kepelbagaian haruslah dikelola dengan menggunakan manajemen “dialog yang mendalam”.  Ada sepuluh teori yang mendasari prinsip dari deep-dialogue ini. Dari sepuluh dasar tersebut, penulis hanya akan memaparkan satu karakter yang disebut the continuum principle.

Dalam sebuah dunia yang berbeda, masing-masing peradaban mungkin akan menempatkan posisi dalam posisinya masing-masing. Semua elemen akan terpolarisasi satu dengan yang lainnya. Inilah yang disebut sebagai ”destructive dialogue”.

Setelah melewati fase itu, ada satu tahap dialog yang disebut sebagai ”disinterested dialogue”. Di sini, semua elemen sudah tidak lagi saling memusuhi. Mereka mencoba menerapkan prinsip toleransi satu dengan yang lain. Meski begitu mereka masih tetap memiliki kemutlakannya masing-masing. Hanya sekedar mengakui bahwa yang lain ada.

Fase ketiga adalah “dialogical dialogue”. Berbeda dengan dua fase sebelumnya, fase ini ditandai dengan kemauan dari masing-masing pihak untuk tidak hanya mengakui eksistensi yang lain, tetapi juga belajar dari yang berbeda. Meski begitu, kemauan untuk belajar itu tetap tidak membuat cara pandang mereka tentang yang lain berubah.

Tahap keempat adalah “deep-dialogue”. Masa ini sudah tidak lagi sekedar memahami, mentolerir, dan belajar dari peradaban yang berlainan, tetapi juga melakukan transformasi dari tiap-tiap perbedaan itu. Dengan demikian meski inti dari peradabannya tetap sama, tetapi cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial tetap terus menerus dilakukan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan transformasi dari peradaban yang berbeda. Hemat penulis ”deep-dialogue” inilah yang seharusnya menjadi jantung dari tiap dialog lintas peradaban.

Jembatan kedua, merujuk pada paparan John B. Cobb, Jr, adalah  Transformasi. Meskipun Cobb berbicara tentang term tersebut dalam konteks kekristenan, tetapi sesungguhnya jika dibentangkan dalam spektrum yang lebih luas, ide tersebut juga berlaku untuk semua agama.

Proposisi dasar dari transformasi, kata Cobb haruslah bermula dari komitmen bahwa dalam keberimanannya pada Kristus seorang Kristiani haruslah terbuka kepada yang lain.[23] Kekristenan, sebagai sebuah living movement, tidak bisa lagi meminta komitmen terhadap semua kondisi yang diambil dari masa lalu.[24] Dengan begitu, maka maka perubahan dan perkembangan yang terus dilakukan tidak bisa didasarkan atas relativisme. Kata Cobb, the fullness of Christianity lies in the ever-receding future.[25]

Keterbukaan terhadap tradisi lain, bagi Cobb tidaklah berhenti pada taraf membuka diri. Tetapi, saat ada pengakuan bahwa ada praktek atau ajaran yang baik dan penting yang kita tidak menderivasi tradisi keagamaan kita, maka kita harus siap belajar meski akan mengancam keyakinan sendiri.[26] Itulah yang oleh Cobb disebut sebagai “full openness”.[27] Keterbukaan terhadap kebenaran secara nyata berisi tentang keterbukaan terhadap kebenaran partikular yang ada dalam tradisi lain.

Dalam keyakinan Cobb, Kristen berada dalam proses menjadi yang ditransformasi oleh tradisi keagamaan yang lain.[28] Cobb mencontohkan bahwa Buddhaisasi (Buddhization) kekristenan akan mentransformasi kekristenan dalam sebuah kebenaran yang mendalam dan luhung, kualitas hidup yang lebih baik dan kemampuan penuh untuk melayani dengan baik Kristus dalam ruang politik.[29] Hemat Cobb apa yang dipahami oleh orang Kristen bahwa ”the way, the truth and the life” itu, diikat oleh ”creative transformation”. Hanya melalui transformasi kreatif itulah Tuhan bisa dikenal.[30]

Hemat penulis, paparan Cobb tentang transformasi ini sangat bermanfaat untuk dua hal. Pertama, transformasi ini menjadi model baru dalam dialog agama-agama serta pemahaman terhadap realitas mutlak. Yang umum dikenal, dialog agama-agama biasa dipetakan dalam tiga model eksklusif, inklusif dan pluralis seperti yang dipaparkan oleh Paul F. Knitter dalam ”One Earth Many Religions”.[31]

Eksklusif menunjukan satu sikap dan komitmen bahwa pengakuan terhadap kebenaran atau kuasa penyelematan dari agama tokoh agama lain merupakan suatu tamaran dan pencemaran terhadap apa yang dilakukan Allah kepada Yesus. Paradigma Inklusif mengindikasikan bahwa bagi umat Kristen kebenaran yang meyakinkan itu dengannya mereka hidup dan norma penuntun yang dengannya mereka masuk ke dalam arena kebenaran lainnya. Karena itu semua agama tetaplah memiliki semacam kecemburuan. Perspektif pluralis memiliki sasaran terlaksananya dialog korelasional sejati antar-agama dan terbentuknya teologi komparatif diantara umat Kristen.

Kedua, prinsip dasar dari transformasi sangat berharga dalam melakukan transformasi agama-agama dalam kontes keindonesiaan. Dengan transformasi maka Kekristenan yang dikembangkan bukanlah Kristen Barat. Begitu juga dengan tradisi keagamaan lainnya. Islam yang dikembangkan bukanlah Islam Arab lengkap dengan segala ortodoksi dan konservatismenya. Jadi yang muncul pada nantinya adalah “Indonesianized Christianity”, “Indonesianized Islam”, “Indonesianized Buddhism” dan lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adisusilo, Sutarjo, Sejarah Pemikiran Barat: Dari Yang Klasik Sampai Yang Modern, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2005)

Audi, Robert, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal, (terj) Yusdani dan Aden Wijdan, (Jogjakarta: UII Pres dan Pusat Studi Islam UII, 2002)

Berger, Peter L., “The Desecularization of the World: A Global Overview”,  dalam Peter L. Berger (ed), The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics, (Washington DC-Grand Rapids Michigan: Ethics and Public Policy Center-William B. Eerdmans Publishing Company, 1999)

Cobb, John B. Jr, Transforming Christianity and the World:A Way beyond Absolutism and Relativism, (New York: Maryknoll, 1999)

Cox, Harvey, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective, (New York: The Macmillan Company, 1967)

Huntington, Samuel P., “The Clash of Civilizations?”, Foreign Affairs, Volume 72, No.3, Summer 1993.

Knitter, Paul F., One Earth Many Religions: Multifaith Dialogue and Global Responsibility, (New York: Markynoll, 1995)

Mudhofir, Ali, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1988)

Pardoyo, Sekularisasi dalam Polemik, (Yogyakarta: Grafiti, 1993)

Swidler, Leonard dan Paul Mojzes, The Study of Religion in an Age of Global Dialogue, (Philadelpia: Temple University Press, 2000)

Waters, Malcolm, Globalization, (New York: Routledge, 1995)

 

Catatan Akhir

[1] Harvey Cox, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective, (New York: The Macmillan Company, 1967), 17.

[2] Ibid.

[3] Ibid., 15.

[4] Ibid., 15

[5] Pardoyo, Sekularisasi dalam Polemik, (Yogyakarta: Grafiti, 1993), 21. Tentang pembedaan sekularisasi dan sekularisme ini sebenarnya sudah ditekankan oleh Cox. Sekularisme, menurut Cox, merupakan ideologi yang mengandung ajaran-ajaran mengikat, dan sebagai ideologi mempunyai sifat tertutup, hal ini tentu bertolak belakang dengan sekularisasi yang mempunyai sifat terbuka dan kebebasan. Dengan kata lain, kalau sekularisme sebagai ideologi bersifat statis dan tidak mengalami perubahan, maka sekularisasi sebaliknya, bersifat dinamis dan membawa kepada perubahan dan pembaruan. Harvey Cox, The Secular City . . ., 18

[6] Ibid.

[7] Dikutip dari Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 24-25.

[8] Esensi dari semangat renaissance dapat disimak dari pandangan para teolog pada masa tersebut yang mengatakan bahwa manusia dilahirkan bukan hanya memikirkan nasib di akhirat, seperti semanagat abad pertengahan, tetapi manusia harus memikirkan hidupnya di dunia ini. Gema rennaisannce mengumandangkan seruan bahwa “Man can do all thing if they will”. Sutarjo Adisusilo, Sejarah Pemikiran Barat: Dari Yang Klasik Sampai Yang Modern, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2005), 24-25.

[9] Dalam konteks ini pulalah sebenarnya Nurcholis Madjid berusaha mentransformasikan gagasan sekularisasi untuk melakukan pembaharuan dalam pemikiran dunia Islam.

[10] Robert Audi, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal, (terj) Yusdani dan Aden Wijdan, (Jogjakarta: UII Pres dan Pusat Studi Islam UII, 2002), 48-50.

[11] Harvey Cox, The Secular City. . ., 52.

[12] Malcolm Waters, Globalization, (New York: Routledge, 1995), 130-131.

[13] Ibid.

[14] Peter L. Berger, “The Desecularization of the World: A Global Overview”,  dalam Peter L. Berger (ed), The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics, (Washington DC-Grand Rapids Michigan: Ethics and Public Policy Center-William B. Eerdmans Publishing Company, 1999), 2.

[15] Ibid., 3.

[16] Ibid., 3-4.

[17] Ibid., 4.

[18] Samuel P. Huntington, “The Clash of Civilizations?”, Foreign Affairs, Volume 72, No.3, Summer 1993.

[19] Ibid., 24.

[20] Ibid., 25.

[21] Ibid., 29.

[22] Leonard Swidler dan Paul Mojzes, The Study of Religion in an Age of Global Dialogue, (Philadelpia: Temple University Press, 2000), 156.

[23] John B. Cobb, Jr, Transforming Christianity and the World:A Way beyond Absolutism and Relativism, (New York: Maryknoll, 1999), 45.

[24] Ibid.

[25] Ibid.

[26] Ibid.

[27] Ibid.

[28] Ibid., 46.

[29] Ibid.

[30] Ibid., 47.

[31] Knitter sendiri sebenarnya mengutip kategorisasi ini dari Alan Race. Paul F. Knitter, One Earth Many Religions: Multifaith Dialogue and Global Responsibility, (New York: Markynoll, 1995)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *