Islam di Tiongkok dan China Muslim di Jawa Pada Masa Pra-Kolonial Belanda

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Anthropology Proffesor di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Saudi Arabia

 

Saya ingin mengawali orasi kebudayaan ini dengan mengutip sebuah teks klasik China dalam buku Ming Shi (“Sejarah Dinasti Ming”) dan Ying-yai Shen-­lan mengenai masyarakat China yang bermukim di Jawa, yakni orang-orang dari Kanton (Kwangchou), Zhangzhou (Chang-chou), Quanzhou (Chuan-chou) dan kawasan China Selatan yang telah meninggalkan Tiongkok dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir sebelah timur terutama Tuban, Gresik dan Surabaya. Menurut kedua teks ini, kebanyakan dari orang-orang China yang mendiami pesisir utara Jawa Timur pada awal abad ke-15 tersebut berkehidupan sangat layak serta —dan ini yang paling menarik— sebagian di antara mereka telah memeluk agama Islam dan taat beribadah (Mills, 1970:93; Groendeveldt, 1960:49). Berikut kutipan teks Ying-yai Sheng-lan yang ditulis oleh seorang China Muslim bernama Ma Huan:

 

“In this country there are three kinds of people: 1) the Mohammedans, who have come from the west and have established themselves here, their dress and food is clean and proper; 2) the Chinese, being all people from Canton, Chang-chou, Ch’uan-chou (the later two places situated in Fukien, not far from Amoy) who have run away and settled here, what they eat and use is also very fine and many of them have adopted the Mohammedan religion and observe its precepts; 3) the natives, who are very ugly and uncouth, they go about with uncombed heads and naked feet and believe devoutly in devils, theirs being one of the countries called devil-countries in Buddhist books. The food of these people is very dirty and bad, its for instance snakes, ants and all other of insects and worms, which are kept a moment before the fire and than eaten; the dog; then have in their houses eat and sleep together with them, without being disgusted at all”.[1]

 

Kesaksian Ma Huan mengenai orang-orang China dari Kanton, Zuangzhou dan Quanzhou yang telah memeluk agama Islam di atas sebetulnya bukanlah hal aneh, mengingat daerah-daerah tersebut di China sendiri merupakan kantong-kantong umat Islam sebagai akibat persinggungan antara China dengan Arab. Lo Hsiang Lin dalam studinya “Islam in Canton in the Sung Period” menyebut­kan bahwa orang China telah mengenal Islam sejak masa-masa paling awal dari perkembangan agama ini, yakni abad ke-7 M. Chinese Annals dari Dinasi Tang (618-960) juga mencatat adanya pemu­kiman umat Islam di Kanton, Zhangzhouw, Quanzhou dan pesisir China Selatan lain. Ada banyak buku yang telah mengulas tentang sejarah perkembangan Islam di Tiongkok ini. Antara lain: Islam in China (Broomhall Marshall, 1905), Muslim in China (C. Sell, 1913), History of the Muslim in China (Muhammad Fu, 1930), The Spread of Islam in China (Ibrahim Tien Yin Ma, 1970). Adapun buku-buku yang relatif baru tentang perkembangan China Muslim kontemporer di Tiongkok dapat dibaca dalam beberapa karya akademik yang ditulis antropolog Dru Gladney, al, (1) Muslim Chinese dan (2) Dislocating China.

Menurut karya-karya di atas ditambah dengan berbagai catatan resmi berbagai dinasti di Tiongkok, pemukiman orang-orang Arab, Persia, dan Marocco sudah ada sejak Dinasti Tang di awal abad ke-7. Pada waktu itu kaisar menyediakan area khusus untuk para pedagang asing (termasuk orang-orang Arab) yang disebut Fan Fang. Pada masa inilah terjadi kontak pertama kali Tiongkok dengan masyarakat Islam. Di masa Dinasti Tang, khususnya di era kekaisaran Tai Tsu (618-626) dan Tai Tsung (627-649), kebudayaan, kesenian dan sastra di Tiongkok maju pesat. Karena itu tidak heran jika Nabi Muhammad pernah bersabda: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Khalifah Usman bahkan pernah mengutus duta Islam yang dipimpin Sa’ad Bin Abi Qaqqash untuk menjalin persahabatan dengan Dinasti Tang (konon dikabarkan Sa’ad ini meninggal di Tiongkok).

Ketika Dinasti Song berdiri di awal abad ke-10 (907-1276), hubungan dengan Islam Arab, Persia, dan Afrika Utara terus berlanjut bahkan semakin intensif. Dilaporkan lebih dari 10,000 “keluarga asing” (termasuk masyarakat Muslim dari Timur Tengah) mendiami kawasan Fan Fang yang disediakan khusus untuk “orang-orang asing” ini. Kaum Muslim mendapat momentum ketika Dinasti Yuan berkuasa di Tiongkok (1277-1367). Dinasti Yuan yang didominasi oleh kaum Mongol ini tidak percaya kepada etnis Han (etnis mayoritas di Tiongkok), dan sebagai gantinya mempromosikan orang Muslim (juga Yahudi) dari Arab dan Timur Tengah di posisi-posisi tinggi, baik di pemerintahan maupun militer, guna mengontrol dan menjaga kaum Han. Orang-orang Muslim ini kemudian kawin-mawin dengan gadis-gadis lokal China sehingga semakin banyak jumlah mereka pada masa Yuan ini. Karena itu ada pepatah di Tiongkok: “In the Yuan Dynasty, Muslims were all over the universe” (i.e. China). Pada masa Yuan ini juga Daulah Abasiyah yang berpusat di Baghdad ditaklukkan oleh tentara Hulagu Khan. Orang-orang yang Muslim Semit yang ditaklukkan itu kemudian dibawa ke Tiongkok untuk dipekerjakan di pemerintahan, perkapalan, kesenian, dan kemiliteran.

Puncak perkembangan Islam di Tiongkok terjadi pada masa Dinasti Ming (1368-1643) sehingga Dinasti Ming ini sering disebut sebagai “Islamic regime”. Sejarah Islam pada masa Dinasti Ming ini telah ditulis dengan baik oleh Profesor Hickmet Ma Mingdao: Talks on the Ming History. Tidak seperti Yuan dan dinasti-dinasi sebelumnya, Dinasti Ming ini didirikan oleh kelompok etnis minoritas Hui. Ada dugaan kuat kaisar pertama Ming, Zhu Hongwu, adalah Muslim. Tetapi ia menyembunyikan identitas etnis dan agamanya, dan mengaku sebagai “Han” untuk, meminjam kalimat Aliya Ma Lynn dalam Muslims in China, “pacify and unify the country”. Laksamana China Muslim Cheng Ho yang melegenda itu juga hidup masa Ming ini.

Demikianlah sejarah singkat eksistensi Islam di Tiongkok. Bukti historis yang tidak terelakkan tentang eksistensi kaum Muslim di kawasan ini adalah adanya dua buah masjid kuno di Kanton (yang dimaksud adalah Masjid Kwang Tah Se = “Masjid Bermenara Megah” dan Chee Lin Se=“Masjid Bertanduk Satu”) yang menurut beberapa sejarawan merupakan masjid kedua tertua di dunia setelah Masjid Nabawi yang dibangun Muham­mad di Madinah (Tien Ying Ma, 1979; Israeli & Johns (ed.), 1984; Broomhall, 1905). Masjid Kwang Ta Se di Kanton itu adalah masjid pertama yang dibangun diluar kawasan Arab! Dengan demikian informasi yang merupakan kesaksian langsung Ma Huan mengenai komunitas Muslim China dari Kanton, Zhangzhou dan Quanzhou di pelabuhan-pelabuhan Gresik, Tuban dan Surabaya pada awal abad ke-15 seperti disebutkan di awal paragraf ini adalah hal yang wajar dan tidak mengejutkan.

Sejarah Islam di Tiongkok mengalami masa-masa suram ketika Dinasti Ming dihancurkan oleh orang-orang Manchuria yang kemudian mendirikan Dinasti Qing (1644-1911). Pada masa ini terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam. Para kaisar juga memaksa umat Islam untuk kembali ke ajaran leluhur China: Konfusianisme. Sebagai akibatnya banyak orang-orang Islam yang melakukan konversi atau pindah agama. Karena kekejaman rezim pula, maka terjadi banyak pemberontakan yang dilakukan kaum Muslim pada semasa Qing ini. Konflik baru mereda setelah Dr. Sun Yat Sen pada tahun 1911 berhasil melakukan revolusi menggulingkan Dinasti Qing. Dr. Sun Yat Sen ini kemudian mendirikan sebuah negara baru Tiongkok di atas fondasi demokrasi modern yang menghidupkan kembali kebebasan beragama. Ia juga menyatukan lima etnis utama Tiongkok: Han, Mancu, Mongol, Hui, dan Tibet. Di bawah pemerintahan nasionalis demokratik, mereka menikmati hak-hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara.

Pemerintahan Nasionalis Demokratik ini berakhir pada tahun 1949 setelah Tiongkok dikuasai kaum komunis. Setelah diduduki komunis, pemerintahan nasionalis ini kemudian memindahkan markasnya dari Nanjing ke Taipei (Taiwan) sampai sekarang. Di bawah kekuasaan komunis pimpinan Mao Tse Tung, semua agama dibumihanguskan dan diganti dengan ideologi materialisme. Baru setelah komunis dipimpin oleh Deng Xiaoping pada 1970an, agama-agama di China bisa bernafas lega lagi.

Kini data mengenai komunitas Muslim di Tiongkok sangat bervariasi. Ada yang menyebut 65 juta (report dari San Diago State University); BBC memperkirakan antara 20-100 juta atau sekitar 7,5% dari total penduduk China. Tetapi menurut statistik resmi penduduk tahun 1936, terdapat sekitar 48 juta Muslim dan 42 ribu masjid. Berdasarkan jumlah ini, PBB mengestimasi pada tahun 2009, penduduk Muslim di Tiongkok mencapai sekitar 140 juta! Jumlah ini jauh lebih besar dari penduduk Muslim di Iran, Irak, Arab Saudi, Mesir dll. Mengingat sejarah Islam yang begitu awal tiba di Tingkok dan “hubungan dagang” (dan politik) antara dinasti-dinasti Tiongkok dan Jawa (dan Nusantara), maka bukanlah hal aneh jika mereka banyak berperan dan mewarnai sejarah keislaman di Nusantara.

***

Dalam setiap pembicaraan mengenai apa yang disebut “islamisasi Nusantara,” para sejarawan (apalagi yang awam) selalu merujuk pada Arab atau India sebagai negara yang berperan besar dalam memperkenalkan corak keislaman di negeri ini. Pandangan ini sudah lama mengakar dalam benak setiap Muslim. Karena teori Arab atau India/Gujarat ini diajarkan sejak Sekolah Dasar bahkan para guru ngaji di pondok, madrasah, masjid selalu “meritualkan” pandangan ini. Ada yang menanggapi dengan santai-santai saja dan menganggap hanya sebagai “hiburan sejarah” tetapi ada yang menanggapi dengan serius bahkan sangat serius sampai pada taraf meyakini teori Arab ini. Apalagi kelompok “Islam puritan” akan berusaha mati-matian membela teori Arab dalam proses islamisasi Nusantara dan berusaha sekuat tenaga untuk menolak teori lain. Mereka berpandangan, dengan mempertahankan teori Arab maka dapat menjaga wajah “otentisitas keislaman” (kemurnian Islam). Sebaliknya, jika proses keislaman di Nusantara ini dilakukan orang-orang selain Arab maka akan dapat “menodai” keislaman.

Bagi orang-orang puritan ini, dunia Arab (orangnya, tradisinya, kulturnya, makanan-minumannya dan seterusnya) adalah segala-galanya karena Islam lahir dari sana. Mereka lupa, bahwa kesalehan bukan monopoli bangsa Arab, kejelekan bukan monopoli bangsa non-Arab. Dunia Arab, selain menampilkan wajah-wajah saleh juga memunculkan wajah-wajah culas yang bejat. Sebaliknya, dunia non-Arab, selain menampakkan sisi-sisi gelap, di sana juga ada wajah kearifan yang menjadi cermin keagungan sebuah peradaban. Islam, tidak akan berkurang derajat kesahihannya meskipun ada peran orang-orang China di dalamnya. Di sini mereka lupa bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik. Tulisan ini bermaksud melacak historisitas islamisasi Nusantara, Jawa khususnya, mencakup agen sejarah islamisasi, pola dakwah dan bukti-bukti kesejarahan. Di belakang nanti saya tunjukkan, pelacakan ini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa banyak agen yang turut mewarnai keislaman Jawa dan salah satu agen terbesar yang turut menyebarkan Islam di Jawa ini adalah orang-orang China Muslim. Bahkan peran China ini lebih meyakinkan ketimbang orang-orang Arab khususnya Hadramaut sebagaimana yang selama ini dipegangi sementara umat Islam.

Hampir semua sejarawan meyakini bahwa proses islamisasi Jawa terjadi pada bentangan abad ke-14 sampai 16. Di Jawa, rentangan abad ini memang sangat penting sebab masa-masa ini merupakan proses penguatan basis-basis Islam. Islam tidak lagi tampil sebagai “community” yang sporadis tetapi sudah menjadi “society” yang terstruktur dengan sistem yang cukup baik dan rapi. Pada masa ini juga terjadi tonggak sejarah yang penting di Jawa: Kerajaan Majapahit hancur untuk kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam (vorstendommen) di pesisir utara Jawa yang berpusat di Demak. Gambaran sosiologis Jawa pada masa itu termasuk pergolakan politik yang terjadi di dalamnya, secara menarik dipaparkan Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad ke-16. Dalam karya ini, Pram menyebut beberapa tokoh China Muslim penting pada abad ke-16 yang berperan besar dalam proses perkembangan Islam di Jawa.

Di antara mereka adalah Liem Mo Han (Babah Liem). Babah Liem ini tidak hanya mengerahkan kekuatan China untuk melawan Portugis tetapi juga dikenal sebagai arsitek sejumlah masjid kuno di Jawa seperti Masjid Mantingan di Jepara. Babah Liem ini adalah seorang China Muslim, pemuka Nan Lung (“Naga Selatan”—sebuah organisasi masyarakat China Rantau yang mempertahankan lembaga peradaban dan kebudayaan negeri leluhurnya) yang sangat dihormati oleh masyarakat China di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Organisasi Nan Lung dibentuk setelah ekspedisi Cheng Ho yang melegenda itu. Oleh Nan Lung dan masyarakat China, ia diangkat menjadi penghubung antara Lao Sam (Lasem) dengan Toa-lang (Semarang), juga diangkat menjadi duta masyarakat China untuk Demak. Liem Mo Han atau Babah Liem bukanlah satu-satunya orang China Islam yang memegang peran penting yang diceritakan Pram, beberapa China Muslim lain juga ia sebut seperti Coa Mie An dan Gouw Eng Cu. Yang belakangan ini adalah ketua masyarakat China sekaligus sesepuhnya di Lao Sam atau Lasem di awal abad ke-16.

Pram juga mengajukan tesis menarik, yakni bahwa Sunan Kalijaga yang selama ini dipersepsikan sebagai anak Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta, menurutnya adalah Putra Brawijaya, raja Majapahit yang tersohor itu dari seorang putri China Muslimah bernama Retna Subanci, putri Babah Ba Tong alias Tan Go Hwat. Entah alasan apa Retna Subanci yang saat itu dalam keadaan hamil kemudian oleh Brawijaya diserahkan kepada Adipati Tuban. Dari sinilah kemudian lahir seorang putra bernama Jaka Seca yang kelak menjadi Raden Said atau Sunan Kalijaga. Oleh ibunya, ia diserahkan kepada Gouw Eng Cu untuk dididik di Lao Sam (Arus Balik, 367). Alasan lain yang digunakan Pram untuk memperkuat argumentasinya adalah fakta sejarah bahwa Sunan Kalijaga lebih membela Demak mati-matian ketimbang Tuban. Kenapa? “Sebab Demak adalah rezim China”.

Tidak jelas sumber-sumber yang dipakai Pram untuk melakukan rekonstruksi sejarah ini. Karena ia memang tidak menyebutkannya. Tetapi paparannya sungguh rasional dan meyakinkan dan sesuai dengan catatan-catatan asing hasil pengamatan langsung mengenai masyarakat China yang mendiami di pesisir Jawa. Baik pengembara portugis, Tome Pires, Ma Huan dari China maupun Loedwicks dari Belanda sama-sama menyaksikan eksistensi China Islam di pesisir Jawa ini. Yang jelas, tentang informasi genealogi Sunan Kalijaga ini, Pram tampak berla­wanan dengan informasi historiogafi lokal Jawa Tengah terutama Babad Tanah Djawi dan Serat Kanda, juga Tembang Babad Demak. Dalam teks-teks ini, Sunan Kalijaga disebut sebagai anak kandung Adipati Tuban, Arya Teja bukan anak Brawijaya dari Putri China yang dititipkan kepada Arya Teja. Sebaliknya, babad-babad menceritakan anak Brawijaya dari Putri China itu (menurut naskah Serat Kanda bernama Sio Ban Chi, putri seorang China Muslim yang bernama Syekh Bentong) bernama Jin Bun alias Raden Patah, Raja Demak pertama. Oleh Brawijaya, Putri China Muslimah ini diserahkan kepada Arya Damar (bukan Arya Teja), raja muda di Palembang. Di sanalah Raden Patah yang legendaris itu dilahirkan.

Pram bukanlah orang pertama yang mengidentifikasi keChinaan Sunan Kali­jaga. Jauh sebelumnya, sudah ada bebe­rapa sejarawan dan ahli yang berpendapat bahwa Sunan Kalijaga yang menempati posisi terhormat dalam masyarakat Islam Jawa itu seorang China. Prof. Muljana, sejarawan UI dalam buku klasiknya yang kemudian dibredel pemerintah Orde Baru, Runtuhnya Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusan­tara berdasarkan teks “kronik kelenteng Sampokong” (oleh Graaf & Pigeaud, dua sejarawan gaek Belanda disebut Catatan Tahunan Melayu atau Malay Annals) juga mengatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang arsitek Masjid Demak yang bernama asli Gan Si Cang. Kemudian S. Wardi, sejarawan lokal dari Kota Wali Demak juga berpendapat bahwa Sang Sunan yang melegenda itu aslinya berna­ma Oei Sam Ik, putra Oei Tik To, Bupati Tuban. Selanjutnya, Pangeran Hadiwi­djaya dalam suatu ceramah tentang Sunan Kalijaga yang diadakan Widya Pustaka di Kota Solo juga mengemukakan pan­dangan bahwa kata Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata China, “Sa It” yang berarti 3l (Sa/Sam=3, It=1). Kata ini merujuk pada usia ayahnya saat melahirkan Sang Sunan yang berusia 31 tahun. Pangeran Hadiwidjaya bahkan tidak hanya menyebut Sunan Kalijaga yang beridentitas Muslim China, beberapa nama lain yang disinyalir seorang Muslim China juga disebutnya seperti Ki Ageng Gribig yang menurutnya bernama Siauw Dji Bik, Ki Ageng Pengging (Heng Pa Hing), Sunan Bonang (Bo Bing Nang) dan Sultan Pajang (Na Pao Tjing).

Apakah Pram dan beberapa ahli di atas sedang berfantasi ketika mengiden­tifikasi “keChinaan” sejumlah nama beken dalam sejarah islamisasi Jawa abad ke-15/16—abad di mana agama Islam sedang berproses untuk menunjukkan eksistensinya sebagai agama baru? Pendapat Pram, juga lainnya, tidak bisa disalahkan 100%, juga tidak bisa dibenarkan 100%. Sebab, sejarah bukanlah soal benar dan tidak benar tetapi soal rasional dan tidak rasional, masuk akal dan tidak masuk akal. Sejarah adalah sebuah interpretasi atas peristiwa masa lampau. Karena itu kebenaran sejarah adalah relatif. Kita tidak bisa mengklaim bahwa pendapat Si A salah dan Si B benar. Terlepas dari sahih dan tidaknya data yang dipakai para ahli di atas, yang jelas berbagai analisis kesejarahan menunjukkan bahwa orang-orang China, pada kurun itu (abad ke-15/16), memang memegang peran cukup signifikan di hampir segala bidang: pertukangan, perniagaan/perdagangan, pelayaran/navigasi dan hal-hal yang terkait dengan wilayah kepolitikan. O­rang-orang China yang mendiami Jawa ini merupakan imbas (side effect) dari hubungan Jawa-China yang sudah dibangun sejak klasik.

***

Relasi Jawa (teks China: She-po, Zhao­wa) dengan China (Tiongkok), baik dalam pengertian hubungan diplomatik antar-kedua negara/kerajaan maupun kontak dagang memang sudah berlangsung sejak klasik jauh sebelum Islam datang ke kawasan ini (Wolters, 1967; Schrieke, 1960; Leur, 1955; Vlekke, 1943). Hu­bungan tersebut terus berlanjut saat China dikuasai Dinasti Ming (1368-1644 M), sebuah rezim yang memberi apresiasi cukup besar terhadap komunitas Muslim di sana. Saat itulah terjadi arus perhu­bungan yang cukup intensif Jawa-China. Buku Ming Shi (“Sejarah Dinasti Ming”) di satu sisi dan kisah-kisah yang disusun sewaktu pelayaran Cheng Ho terutama risalah Ying-yai Sheng-lan yang ditulis Ma Huan (sekitar tahun 1416) di pihak lain menunjukkan dengan jelas bahwa kegiat­an dagang antara Jawa dengan China pada waktu itu (abad ke-15) meningkat, dan di Jawa sendiri peran masyarakat China dalam bidang perniagaan dan maritim semakin lama juga semakin meningkat (Lombard, II, 1996; Reid, 1992, 1999). Pada tingkat diplomasi, pada kurun abad ke-15 dan ke-16, hubungan Jawa dengan China juga terlihat sangat baik. Kira-kira tahun 1410, pemerintahan China (Dinasti Ming) secara resmi memihak Jawa (baca, Majapahit) untuk melawan Malaka yang menuntut kedaulatan atas Palembang (teks China: Kukang) dan mengirim sepucuk surat yang mengandung kepu­tusan itu kepada penguasa Majapahit. Artinya, keunggulan Jawa atas Sriwijaya disahkan / dilegalkan secara pasti—suatu hal yang disengketakan dan tak tersele­saikan sejak ekspedisi Kertanegara dari Singasari tahun 1275 saat melawan Melayu.

Perlu diketahui bahwa eksistensi China Islam pada abad ke-15/16 tersebut tidak hanya di Jawa Timur saja seperti disaksikan Ma Huan (seperti saya sebutkan di awal paragraf ini), melainkan hampir merata di sepanjang pesisir utara (“Pantura”) Jawa. Pengelana Belanda, Loedewicks, yang mengunjungi Banten pada abad ke-16 seperti dicatat Sutterheim dalam uraian kesarjanaannya tentang Keraton Majapahit, juga menyaksikan eksistensi komu­nitas China Islam ini yang dalam dokumen VOC disebut geschoren Chineezen (“orang-orang China cukuran”). Kesaksian atas eksistensi China Islam di Jawa bahkan Asia Tenggara pada bentangan abad ke-15/16 juga diberikan Ibnu Batutta, pengembara asal Maghrib yang pada pertengahan abad ke-15 berkeliling dunia menelusuri daerah pesisir dari Arab sampai China dan Asia Tenggara seperti tertuang dalam buku Rihlah ibn Bathutah yang diedit Thalal Harb.

Informasi yang merupakan hasil pengamatan langsung di atas benar-benar mendukung tradisi Jawa mengenai awal mula penyebaran agama Islam di Jawa. Tradisi-tradisi yang pada umumnya tersimpan dalam babad-babad yang disusun kemudian (zaman Mataram Islam) meskipun uraiannya diselimuti penuh mitos tetapi yang dikemukakannya ialah suasa­na kosmopolitan yang pada waktu itu terdapat di pelabuhan-pelabuhan pesisir dan masyarakat baru yang sedang terbentuk itu pada perkembangan berikutnya mampu mendesak dan meruntuhkan kekuasaan agraris Majapahit di peda­laman. Bahkan ada beberapa teks lokal yang menyebut secara eksplisit keberadaan Muslim China pada awal perkembangan agama Islam di Jawa seperti ditunjukkan dalam Babad Tanah Djawi, Serat Kandaning Ringgit Purwa, Carita (Sejarah) Lasem, Babad Cerbon, Hikayat Hasanuddin dan lain-lain. Menariknya, hampir semua historiografi lokal Jawa menyebut Raden Patah, penguasa pertama kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa ialah seorang Muslim China. Perbedaannya hanya terletak pada genea­logi Raden Patah saja. Jika teks-teks lokal Jawa Barat mengaitkan asal-usul sang raja yang legendaris itu dengan China Mongol (Hikayat Hasanuddin menyebut moyang­nya bernama Cek Ko Po dari Munggul sementara Sadjarah Banten menyebutnya Cu-Cu), maka beberapa teks lokal Jawa Tengah seperti Babad Tanah Djawi, Serat Kanda atau Tembang Babad Demak mengaitkannya dengan Raja Majapahit Brawijaya yang menikah dengan Putri China (sebagian riwayat menyebut nama putri China ini Sio Ban Chi, putri Syekh Bentong atau Kyai Bantong yang juga seorang Muslim China). Jika Raden Patah adalah seorang Muslim China, maka Demak dengan sendirinya merupakan rezim China. Raden Patah adalah seorang raja yang berobsesi menjadikan Demak sebagai Negara Maritim Islam yang tangguh di Jawa. Obsesinya itu kandas setelah Trenggana (teks Malay Annals: Tung Ka Lo) wafat tahun 1546 dalam sebuah pertempuran melawan Panarukan yang bersekongkol dengan Portugis. Sementara para penggantinya tidak memiliki kualifikasi sebagai leader yang cakap, bahkan antar-keturunan Raden Patah terlibat konflik panjang dan berdarah-darah sampai akhirnya Senapati (Sutawijaya) berhasil menghempaskan Jaka Tingkir dan mendirikan imperium Mataram Islam di pedalaman Jawa.

Selain babad, kesaksian pengembara asing tentang eksistensi China Islam di atas juga paralel dengan tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat Jawa. Cerita tutur di berbagai daerah pesisir Jawa menyebutkan adanya tokoh-tokoh China Islam yang berperan cukup besar dalam proses islamisasi di kawasan ini seperti kisah Cie Gwie Wan, “tangan kanan” Sultan Hadlirin sekaligus peletak dasar tradisi seni ukir di Jepara yang populer dengan sebutan Sungging Badar Duwung karena keahliannya di bidang seni ukir (makamnya ada di kompleks Astana Sul­tan Hadlirin, Jepara). Bahkan menurut teks lokal pesisiran, Serat Kandaning Ringgit Purwa, menyebut Sultan Hadlirin (Suami Ratu Kalinyamat) sendiri seorang China Muslim bernama Wintang. Semula ia seorang pedagang kaya yang kapalnya berantakan akibat serangan badai, semen­tara ia sendiri terdampar di tempat yang bernama Jung Mara (kemudian menjadi Jepara). Konon, pengusaha China bernama Wintang ini kemudian diislamkan Sunan Kudus melalui guide yang juga seorang Muslim China bernama Rakim dan diganti namanya menjadi Hadlirin (nama ini artinya “pendatang”).

Kemudian Kyai Telingsing (Tan Ling Sing/The Ling Sing) yang merupakan (partner dakwah Sunan Kudus atau Jakfar Shadiq di Kudus. Oleh masyarakat Islam setempat, Kyai Telingsing ini tidak hanya dikeramatkan kuburannya tetapi juga dilestarikan ajarannya. Salah satu ajaran Mbah Sing (sebutan Kyai Telingsing) yang masih hidup dalam tradisi masyarakat setempat adalah “solat sacolo saloho dongo sampurno” (maksudnya, salat sebagai do’a yang sempurna). Tradisi masyarakat Salatiga khususnya di daerah Kalibening mengaitkan sejarah Islamisasinya dengan tokoh Lie Beng Ing. Sementara, tradisi masyarakat Cirebon menyebutkan tokoh Tan Eng Hoat (bergelar Maulana Ifdhil Hanafi), Tan Sam Cai alias Muhanunad Syafi’i (ahli moneter di masa awal Kesultanan Cirebon), Kung Sam Pak atau Muhammad Murjani (keturunan Kung Wu Ping, pendiri mercusuar di daerah Sembung, Cirebon) kemudian Tan Hong Tien Nio (populer dengan sebutan Putri Ong Tien) yang menjadi istri Sunan Gunung Djati, pelopor dan penggerak Is­lam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat. Bersama sang Sunan, tokoh-tokoh China muslim itu bahu-membahu menyebarkan Islam sekaligus memperluas teritorial kesultanan Cirebon di seantero Jawa Barat.

Cerita lisan China Islam ini tidak tanya di Jawa saja tetapi juga Bali. Dalam tradisi lokal masyarakat Islam Bali, salah satu anggota Wali Tujuh (semacam tradisi Walisongo di Jawa) adalah seorang Muslim China bernama Syekh Abdul Qodir Muhammad alias The Kwan Pao Lie. Makamnya berada di desa Temukus (Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kabu­paten Buleleng, Singaraja, Bali. Makam ini dikenal dengan sebutan “Keramat Karangrupit” (Zen, 1998:46). Bahkan, Tan Yeok Seong dalam uraian kesarja­naannya tentang Nyai Gede Pinatih menyebutkan bahwa perempuan kuat dan saudagar kaya di Gresik ini yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai ibu angkat Sunan Giri adalah seorang China Muslimah keturunan Shih Chin Ching, seorang overlord (“yang dipertuan besar”) China di Palembang yang bernama Shih Ta Niang Tzi Pi Na Ti. Nama Pinatih adalah verbastering (perubahan kata) dari teks China Pi Na Ti (Seong, 1963:399-408). Nyai Gede Pinatih inilah yang mem-back up dana buat kejayaan Giri Kedaton (kerajaan Giri).

Sejarawan Belanda yang sepanjang hayatnya didedikasikan untuk menulis historisitas Jawa, De Graaf, juga berpen­dapat bahwa Sunan Giri (Raden Paku), meskipun bukan China tapi banyak mempekerjakan orang-orang China sebagai pegawai sipil dan militer untuk mengelola kerajaannya, Istana Giri (Giri Kedaton). Dalam risalahnya, Soerabaja in de XVII eeuaw van Koninkrijk tot Regentschap (“Surabaya dalam abad ke-17 dari Keraja­an sampai Kabupaten”), Graaf juga mencatat .ada sekitar 40 China Muslim yang dipekerjakan Sunan Dalem (Prabu Satmata), penguasa kedua Giri Kedaton. Babad Tanah Djawi (ed. Balai Pustaka, IX, 67/68) juga menceritakan tentang para pengikut Giri saat berperang melawan Pangeran Pekik dari Surabaya (menantu Sultan Agung) terdiri atas kecuali para modin, santri, ketib dan penghulu juga diikuti sekitar 200 tentara China Muslim. Bahkan, menurut sebagian riwayat yang diakui kesahihannya, panglima perang Giri terakhir saat berperang melawan Mataram adalah seorang China Muslim yang bernama Endrasena. Ia adalah anak pungut Panembahan Kawistuwa atau Mas Wetan, pengganti Sunan Prapen. Tokoh ini sampai sekarang masih dikenal dalam lembaran sejarah Tanah Jawa (Budiman, 1979:23).

Patut diketahui bahwa eksistensi China Islam pada awal perkembangan agama Islam di Jawa ini tidak hanya ditunjukkan oleh kesaksian-kesaksian para pengembara asing, sumber-sumber China, teks lokal Jawa maupun tradisi lisan saja melainkan juga dibuktikan dengan berbagai peninggalan kepurbakalaan Is­lam di Jawa yang mengisyaratkan adanya pengaruh China yang cukup kuat sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada ben­tangan abad ke-15/16 telah terjalin apa yang disebut Sino Javanese Muslim Culture—sebuah akulturasi kebudayaan China, Islam, Jawa. Ukiran padas di masjid kuno Mantingan­ Jepara, menara masjid di peChinan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, konstruksi Masjid Demak terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, kons­truksi Masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya semuanya menunjukkan keterpengaruhan budaya China yang kuat. Dan peninggalan kesejarahan yang tak tere­lakkan dari masyarakat China Muslim ialah dua masjid kuno yang berdiri megah di Jakarta, yakni Masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Dalam Masjid Sekayu (masjid tertua di Semarang, Aboebakar Atjeh dalam Sedjarah Mesdjid (1955) menyebutnya Masjid Pekayuan) terdapat lukisan/tulisan China yang berada di kerangka atap (blandar) masjid. Bukti-bukti kesejarahan ini belum termasuk kelenteng-kelenteng kuno kontroversial yang diduga kuat oleh sementara sejarawan sebagai bekas masjid yang dibangun masyarakat China pada abad ke-15/16. Kelenteng-kelenteng yang dimaksud ialah Kelenteng Ancol di Jakarta (juga disebut Kelenteng Nyai Ronggeng), Kelenteng Talang di Cirebon, Kelenteng Gedung Batu (Sampotoalang/Sampokong) di Simongan-Semarang, Kelenteng Sampo­kong di Tuban dan Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya.

Kelenteng Nyai Ronggeng di Ancol (juga disebut Kelenteng Bahtera Bhakti yang terletak kira-kira 25 meter dari Sirkuit Ancol) dihubung-hubungkan dengan seorang Muslim China yang menjadi juru masak Cheng Ho (dikenal dengan Sam Po Swie Soe). Kisahnya, pada waktu Cheng Ho ekspedisi ke Sunda Kelapa (nama Jakarta tempo doeloe), sang juru masak ini kemudian jatuh cinta dengan penari ronggeng setempat yang bernama Sitiwati. Karena sudah saling “jatuh cintrong”, akhirnya, keduanya menikah sampai meninggal dan dikubur­kan di kompleks kelenteng bersama mertuanya yang bernama Said Areli. Cerita lisan ini dirilis ulang oleh Lee Khoon Choy dalam Indonesia Between Myth and Reality. Dua sejarawan Perancis, Dennys Lombard dan Claudine Salmon (1985:17) yang pernah meneliti kelen­teng-kelenteng di Jakarta menduga pembangunan Kelenteng Ancol dalam bentuknya yang cukup megah sekarang ini baru terjadi sekitar abad ke-18, sebelumnya konstruksi bangunannya masih sederhana. Dalam Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya (terletak di kawasan kumuh tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak) terdapat sebuah pusara yang hampir selalu ada kembang, kemenyan, tasbih dan al-Qur’an. Sementara dalam Kelenteng Gedung Batu di Simongan, Semarang, ada beberapa makam keramat China Muslim, antara lain Ong King Hong atau Wang Ching-Hung, karib Cheng Ho yang oleh Amen Budiman dianggap sebagai tokoh sejarah dari legenda Kyai Dampoawang. Selain itu juga terdapat makam Kyai dan Nyai Tumpeng yang oleh masyarakat China setempat dianggap sebagai juru masak Cheng Ho serta makam Kyai Cundrik Bumi yang diduga sebagai pengawal Cheng Ho. Dalam Kelenteng itu pula terdapat sebuah bedug yang berisi kata-kata mutiara aksara/bahasa China: mo’len lan ing yang berarti “diam-diam membenarkan al-Qur’an dengan suara” (Ambary, 2001:283). Kelenteng ini kemudian menjadi megah seperti tampak saat ini setelah tanah kompleks Simongan —tempat situs Kelenteng Sam Po Kong— berhasil dibeli oleh Oei Tjie Sien, ayah Oei Tiong Ham, saudagar kaya yang terkenal dengan julukan “Raja Gula Nusantara” sekitar tahun 1879 dari seorang tuan tanah Yahudi bernama Yohanes (Zhi, 1992:37-38).

Cerita misterius seputar kelenteng ini juga terdapat di Cirebon, tepatnya mengenai Kelenteng Talang. Dalam tradisi masyarakat setempat, kelenteng ini mulanya konon dibangun oleh Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi’i alias Tumeng­gung Arya Dipa Wiracula (menteri keuangan di zaman Kesultanan awal Cirebon). Indikasi bahwa kelenteng ini semula merupakan masjid menurut Tan Tjie Tek, penjaga kelenteng, antara lain arah kelenteng yang menghadap kiblat, adanya sumur dan padasan (tempat berwudlu), tulisan kaligrafi bergaya China, mimbar khotbah serta tempat peng­imaman yang menjorok ke dalam. Tempat ini kemudian dialihfungsikan untuk peribadatan umat Kong Hu Cu (baca, berubah fungsi menjadi kelenteng) oleh seorang China kaya raya Cirebon bernama Mayor Tan Tjie Kie (1853-1920) yang saat itu menjabat ketua Perhimpunan Kong Ju Kwan berdasarkan surat Gouver­nur Hindia Belanda Besluit tanggal 22/7/1898 No.3. Akhirnya, dibuatlah meja al­tar Konghucu sekitar tahun 1960-an oleh Kho Sin Soan.

Beberapa kelenteng kuno kontroversial di atas sangat mungkin semula merupakan masjid (dalam bentuknya yang sederhana) yang dibangun oleh para migran China Muslim yang datang ke Jawa. Mereka memilih menetap di Jawa, tidak pulang kembali ke negerinya dengan alasan tertentu seperti menjalankan bisnis, wisata, keamanan politik sampai motivasi untuk menyebarkan agama Islam. Kemungkinan besar, komunitas China Islam awal yang mendiami pesisir utara Pulau Jawa di atas ialah para pedagang bebas atau mungkin pelarian politik akibat iklim sosial politik yang kurang kondusif di negeri China. Berbagai analisis kesejarahan menunjukkan di negeri Tiongkok ini telah terjadi beberapa kali peristiwa politik yang menyebabkan pengungsian besar-besaran komunitas China di sepanjang pesisir Asia Tenggara termasuk Jawa. Di antara peristiwa politik dimaksud ialah saat terjadi pemberontakan orang-orang Islam di Kanton dan basis-basis Islam di China lain pada sekitar abad ke-8 M. Upaya “makar” ini kemudian digempur Huang Chou yang memporakporandakan Kan­ton dan kawasan Islam lain di China (Lo Hsiang Lin, 1967). Peristiwa politik selanjutnya yang menyebabkan terjadinya arus migrasi dalam jumlah besar ialah ketika kaisar pertama Dinasti Ming, Hung Wu, di akhir abad ke-14 melakukan tindakan pemerasan dan kekerasan terhadap kelas menengah, pengusaha dan pedagang sukses di China yang membang­kang dari kewajiban membayar pajak pada negara. Peristiwa politik ini telah meng­akibatkan terjadinya pelarian modal (kapital) dan migrasi besar-besaran ke luar negeri sekaligus telah mengubah status pelancong temporal China menjadi eks­patriat permanen di negara baru yang dihuninya (Seagrave, 1999).

Selain dua peristiwa politik besar tersebut, kemungkinan lain adanya masyarakat China Islam di Jawa sebelum abad ke-17 ialah saat terjadi ekspansi politik China-Mongol ke Jawa tepatnya Singasari pada akhir abad ke-13 (kata sebagian sejarawan tahun 1292). Ekspedisi politik yang terdiri atas 20.000 tentara China-Mongol ini awalnya dimaksudkan sebagai aksi balas dendam kepada Kertanegara pada akhirnya gagal total setelah mereka berhasil dikelabui Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Majapahit. Pengkaitan China Islam di Jawa dengan sisa-sisa tentara China-Mongol yang berhasil lolos dari gempuran Wijaya ini bukan tanpa alasan. Sebab, seperti ditunjukkan dalam studi Jitsuo Kuwabara bahwa beberapa elite Muslim memegang peran cukup signifikan pada masa kekua­saan Dinasti Yuan (Mongol) di China. Para elite Muslim ini berhasil mempengaruhi beberapa kebijakan China-Mongol untuk melakukan ekspansi teritorial ke Jepang, Korea, Campa dan Jawa (Kuwabara, 1928). Bahkan, seperti ditulis beberapa sejarawan, wakil panglima perang rezim China-Mongol ialah seorang Muslim yang bernama Alaudin Musafari (Ma, 1979; Khan, 1967). Dari sini menimbulkan dugaan kuat bahwa sebagian tentara China-Mongol yang turut serta dalam ekspansi tersebut ialah orang-orang China Muslim. Dugaan ini semakin kuat setelah melihat pada dekade berikutnya di pesisir utara Jawa bermunculan tradisi tentang China Islam yang dikaitkan dengan negeri “Munggul” (maksudnya, Mongol).

Selanjutnya, peristiwa politik berse­jarah dan yang paling monumental ialah saat terjadi ekspedisi Cheng Ho di masa pemerintahan Yung Lo dari Dinasti Ming yang melibatkan ribuan orang-orang China yang sebagian besar di antaranya orang-orang Islam. Beberapa petinggi ekspedisi selain tokoh legendaris Cheng Ho, yakni Ma Huan, Hasan, Wang Ching­hung, Kung Wu Ping, Fei Hsin dan lain-lain juga seorang Muslim yang dikenal taat beragama (Zhi, 1996; Budiman, 1978). Ekspedisi sejak awal abad ke-15 itu tercatat tiga kali mengunjungi Jawa, dan setiap misi muhibahnya selalu meninggalkan jejak historis yang mengagumkan. Ekspedisi yang dipimpin bahariwan besar Cheng Ho ini tidak sekadar bermuatan politik dan ekonomi tetapi juga menyimpan “hidden agenda” berupa Islamisasi. Hal ini terbukti dengan penempatan para konsul dan duta keliling Muslim China di setiap daerah yang dikunjunginya (Parlindungan, 1964; Muljana, 1968). Dimungkinkan, sebagian China Islam yang turut serta dalam rom­bongan Cheng Ho ini enggan pulang kembali ke negerinya baik karena alasan pengembangan bisnis di daerah baru yang dinilai lebih menjanjikan atau faktor kenyamanan politik maupun alasan dorongan keagamaan untuk menyebarkan syi’ar Islam di “negeri kafir”. Jejak-jejak historis yang ditaburkan Cheng Ho ini begitu terasa menyengat dalam kehidupan masyarakat Jawa yang tidak hanya muncul lewat tradisi lisan melalui tokoh mitos Kyai Dampuawang tetapi juga beberapa peninggalan kesejarahan seperti bangunan mercusuar di Cirebon maupun berbagai kelenteng kuno di pesisir utara Jawa yang dikaitkan dengan Cheng Ho, seperti dipaparkan di atas.

Para imigran China di atas yang sebagi­an besar laki-laki ini kemudian meng­adakan perkawinan dengan perempuan lokal baik dengan perempuan bangsawan keraton maupun rakyat biasa seperti yang terjadi pada seorang China Muslim yang kemudian dalam tradisi setempat dikenal dengan “Babah China” yang kawin dengan penari ronggeng di daerah Sunda Kelapa. Dari interaksi lewat perkawinan silang ini, kemudian muncul istilah China Peranakan sebagai imbangan dari China Totok. Migran China yang sebagian besar laki-laki ini disebabkan perempuan pada saat itu tidak boleh bepergian jauh apalagi ke mancanegara baik karena adat setempat maupun larangan dari Kaisar China. Istilah “nyonya China” yang muncul di Jawa pada abad pertengahan sebetulnya mengacu kepada perempuan pribumi yang dikawin dengan laki-laki China. Dan kata “nyonya” sendiri berasal dari kata Hokkian, nio’a atau niowa yang berarti “perempuan” (Liem Tien Joe, 1933). Tradisi kawin silang China-Jawa yang begitu maklum di masa pra-kolonial itulah yang menyebabkan dulu orang Jawa merasa bangga menyatakan dirinya sebagai keturunan China.

Banyak yang memberi kesaksian atas penegasan identitas keChinaan orang Jawa ini yang diberikan para pengamat awal seperti Diogo de Couto, Edmun Scott, William Methold, Schouten atau Abbe de Raynal (Lombard, II, 1996). Pengembara tersohor Portugis, Tome Pires juga tidak bisa menyembunyikan fakta harmoni orang Jawa terhadap China. Bahkan, kata Pires, ada beberapa pengua­sa China yang dengan sukarela mengirim salah seorang anak perempuannya kepada seorang vasal Jawa untuk dinikahi, diiringi sejumlah besar pengikut dan sebuah kapal penuh kepeng (Cortesao, I, 1944:179). Tradisi kawin silang China-Jawa ini terus berlanjut saat kolonialisme Belanda datang. Lombard dan Salmon dalam tulisannya, Islam and Chineseness telah menunjukkan dengan baik beberapa China Muslim peranakan masa kolonial di Jawa. Fakta sejarah demikian bukanlah hal aneh apabila banyak para kyai yang sebetulnya mempunyai leluhur China. Abdurrahman Wahid dalam beberapa kali kesempatan juga sering mengatakan bahwa dirinya masih keturunan Tan Kim Han alias Syekh Abdul Qodir al-Shiniy yang pernah memimpin laskar Demak saat melawan Majapahit bersama Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus) dan Maulana Ishak (konon ayah Sunan Giri). Apakah pernyataan Gus Dur ini “historis” atau sekedar bermuatan “politik” saja hanya dia yang tahu. Tetapi fakta sejarah Muslim China-Jawa ini tidak bisa terbantahkan.

***

Paparan singkat di atas kiranya cukup beralasan jika dikatakan bahwa komunitas Muslim China turut memainkan peran dalam proses sejarah Islamisasi di Jawa sehingga patut dimunculkan “Teori China” dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam di kawasan ini. Sejauh ini, pembica­raan tentang teori Islamisasi selalu dikaitkan dengan Timur Tengah/Arab dan India saja —sebuah teori yang sudah menjadi klasik dan klise. Pelopor teori Arab/Timur Tengah ialah Crawfurd, Keijzer, Naimann, de Hollander, termasuk beberapa sejarawan Indonesia-Melayu seperti Hasjmi, al-Attas, HAMKA, Djajadiningrat dan Mukti Ali. Sementara penyokong teori India antara lain ialah Pijnapel, Hurgronje, Morison, Kern, Winsted, Fatimi, Vlekke, Gonda dan Srhrieke (Drewes, 1985; Azra, 1999). Jadi hampir dipastikan tidak ada sejarawan yang berpendapat secara eksplisit bahwa Islamisasi Nusantara dan Jawa khususnya yang menjadi fokus tulisan ini berasal dari China. Padahal baik “Teori India” maupun Timur Tengah khususnya Arab Hadramaut tidak luput dari kelemahan.

Pembela Teori India hanya didasar­kan pada sejumlah argumen yang sifatnya hipotetik, misalnya konstruksi masjid klasik dengan atap susun seperti bentuk meru pada bangunan beribadah orang Hindu. Ini menunjukkan ada pengaruh India pada kebudayaan Islam. Teori Arab Hadramaut lebih lemah lagi. Van den Berg dalam studinya, Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien (“Hadramut dan Koloni Arab di Nusan­tara”) menyatakan bahwa para sayyid dan syarif dan orang-orang Arab Hadramaut lainnya baru menunjukkan eksistensinya di Jawa pada tahun-tahun terakhir abad ke-18 padahal keislaman berproses di Jawa sejak abad ke-15/16. Orang-orang Arab ini mulai menetap di Jawa setelah tahun 1820. Kemudian sejak tahun 1870 arus migrasi orang-orang Arah ke Nusantara bertambah banyak setelah menggunakan teknologi pelayaran kapal uap (Berg, 1989:67-78). Bandingkan analisis Berg ini dengan fakta sejarah komunitas China Islam yang sudah mendiami pesisir Jawa sebelum abad ke-15.

Karena itu, sejarah Islamisasi Jawa mesti direkonstruksi. Jangan hanya karena faktor politik dan ideologi, kontribusi China Islam ditenggelamkan dalam limbo sejarah. Arus Balik adalah sebuah “saksi bisu” yang mengisahkan tentang arus China (terutama China Islam) di Jawa sejak awal abad ke-16 yang tidak bisa dilempar begitu saja. Buku ini menceritakan soal kegetiran hidup orang-orang (yang mendiami) Jawa saat arus balik membalik. Jawa yang semula menguasai negeri-negeri di Utara kemudian berbalik: Utara yang “menggagahi” Jawa di Selatan. Dalam situasi pembalikan arus ini, orang-orang China yang menetap di Jawa memiliki peran yang tidak bisa diremehkan. Mereka dengan sekuat tenaga berusaha mengembalikan citra Jawa yang sudah mulai redup itu dari penetrasi bangsa “Atas Angin” yaitu Portugis yang malang melintang menguasai perdagangan, pelayaran, senjata, dan terus merangsek ke pusat-pusat strategis di Jawa. Orang-orang China memang pantas melakukan pembelaan mati-matian teritorial Jawa—sebuah kawasan yang sudah lama dihuninya. Kehadiran Portugis dipandang dapat melemahkan hubungan China-Jawa yang selama ini tertanam begitu kukuh dalam kehidupan masyarakat. Kerja sama apik China-Jawa ini dibuktikan dengan berbagai peninggalan kepurbakalaan Islam yang banyak berornamen China seperti saya paparkan pada paragraf di atas.

Pram tidak sedang berfantasi—meskipun karyanya ditulis dalam bentuk fiksi—ketika mengurangi orang-orang China yang berperan besar dalam sejarah islamisasi Jawa abad ke-15/16. Berbagai analisis kesejarahan menunjukkan dengan jelas bahwa di Jawa, pada kurun waktu, orang-orang China memang memegang peranan cukup signifikan di bidang perniagaan, pelayaran/navigasi dan hal-hal lain yang terkait dengan wilayah kepolitikan. Dan kita tahu, Demak yang pada waktu itu memegang hegemoni teritorial Jawa dikuasai orang-orang China yang berobsesi mendirikan Negara Maritim Islam yang tangguh di seantero Nusantara. Itulah sebabnya, ketika gerombolan Portugis, negara yang juga mempunyai reputasi di bidang penjelajahan di awal abad ke-16 (tepat tahun 1511) berhasil merebut Malaka yang merupakan pusat transaksi bisnis internasional yang bergengsi saat itu, orang-orang China ini geram, dan akhirnya mereka berkolaborasi dengan rezim Demak dan Jepara dan Tuban untuk mengusir Portugis dari Malaka—meskipun gagal. Dalam episode pertempuran yang heroik itu tidak hanya orang China Islam saja yang terlibat di dalamnya tetapi juga orang-orang China non-Islam.

Obsesi rezim Islam Demak yang dikuasai orang-orang China untuk mendirikan kerajaan berbasis maritim yang tangguh itu pada akhirnya berantakan setelah Trenggana tewas tahun 1546 dalam sebuah pertempuran melawan Panarukan yang bersekongkol dengan Portugis. Problem ini bertahan ruwet ketiga para keturunan Raden Patah justru terlibat konflik internal kerajaan hingga membuat bergeser ke pedalaman, mundur ke desa-desa di kaki-kaki pegunungan. Mundur, mundur terus sampai ke pedalaman. Proses pemunduran ini bukan hanya dalam pengertian geografis tetapi lebih-lebih lagi mundur ke pedalaman diri sendiri, ke pedalaman nurani, dan kenalurian yang mengganti nalar nasional. Maka lahirlah mistik Jawa yang menjamur dan membudaya pada perilaku manusia. Dalam dekapan rezim Mataram, mistik dan klenik tumbuh subur. Kekuasaan maritim yang membara dan dinamis berganti menjadi kekuasaan agraris yang lesu dan statis.

Pada saat Jawa sedang dirundung duka dan pertikaian internal yang meruncing itu, Belanda datang dan langsung membaca situasi. Persekutuan Jawa-China di pandang dapat mengancam niatan mereka untuk menguasai negeri rempah-rempah ini. Maka politik pun dimainkan, dan meletuskan tragedi Chinezenmoord (“pembantaian orang-orang China”) di Batavia tahun 1740—peristiwa yang mengantarkan lebih dari 10.000 nyawa orang China melayang. Tragis. Sejak itu, orang-orang China di “kerangkeng” dalam sebuah gheto-gheto yang kemudian dikenal dengan pecinan. Mereka terisolasi dari publik ramai. Sepi-sunyi. Putuslah hubungan harmoni Jawa-China. Pada saat yang bersamaan, rezim China pun berganti. Orang-orang asing dari Manchuria menguasai dataran Tiongkok sejak 1644. Mereka adalah bangsa yang tidak bersimpati sama sekali dengan Islam karena dianggap sebagai biang keladi rontoknya kekaisaran Ming. Perang terbuka pun tidak bisa terelakkan. Orang-orang China Islam kemudian menjadi sasaran amuk bangsa Manchu yang sedang kalap. Mereka yang berada di perantauan segera dititahkan pulang, jung-jung pun dibakar habis.

Seiring dengan itu didatangkan gelombang baru imigran China yang berhaluan Konfusianis. Maka, genap sudah penderitaan orang-orang China rantau yang sebagian besar beragama Islam. Sementara di Jawa, konflik anti China terus berkecamuk. Di Kudus sekitar tahun 1916 kembali terjadi huru-hara anti China seolah mengingatkan tragedi 1740. Dan puncaknya, ketika rezim yang menamakan diri Orde Baru memproklamirkan China sebagai “otak” PKI yang kemudian diikuti dengan pembunuhan, pembantaian dan pemusnahan yang berkaitan dengan China. Segala produksi kebudayaan yang berkaitan dengan China dileburkan termasuk karya-karya intelektual yang mengulas historisitas China dengan berbagai kontribusinya. Buku Prof. Muljana, Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara yang mengulas historisitas China Islam di Jawa diberedel dengan Keputusan Djaksa Agung No. Kep. 043/DA/1971. Pembunuhan fisik dan non fisik atas komunitas China ini menyebabkan citra mereka tetap bopeng di mata rakyat. Ujungnya, setiap pengungkapan yang berusaha menyuguhkan sisi-sisi terang mereka ditutup rapat. Digembok. Sejarah China Islam di Jawa adalah bagian dari sisi terang yang sudah sekian lama “dimumikan” oleh sang rezim. Fakta historis China Islam dianggap bukan fakta melainkan pembualan sejarah.

Sang rezim tanpa kenal letih terus menerus menghembuskan aroma borok-borok China: tentang komunisme, tentang keserakahan, tentang keculasan, tentang kekikiran dan seterusnya. Seolah tidak ada sisi baik dari mereka meski hanya secuil. Propaganda itu begitu ampuh, menyentuh ke dalam relung-relung kalbu yang paling dalam dari masyarakat “pribumi”. Akibatnya, kemunculan China Islam dianggap asing, aneh, seolah datang dari dunia lain. China sunat aneh, China masuk masjid aneh, China baca Al-Qur’an aneh. Orang China dipandang tidak berhak menyandang predikat Islam dengan segala ritual dan tradisinya. China identik dan diidentikkan dengan klenteng, hio, pemuja Tao, Barongsai, Toapekong. Karena itu sebuah ide yang mengungkapkan tentang peranan China dalam sejarah Islamisasi Jawa juga dipandang sebagai igauan dan bualan yang “sesat dan menyesatkan”.

Realitas potitik yang getir ini ditambah maraknya sejumlah organisasi Islam yang mengusung ideologi otentisisme sejak awal abad ke-20. Otentisisme adalah sebuah ideologi yang menganggap keotentikan Islam diukur dari Arab. Keislaman dari luar Arab dipandang tidak memiliki derajat kesahihan. Ideologi ini berkembang luas di Indonesia setelah sejumlah organisasi Islam puritan di Timur Tengah, India dan Afrika Utara di abad ke-19 mampu menguasai konstituen masyarakat Islam. Kelompok Islam puritan inilah yang mem-back up teori asal-usul (genealogi) keislam­an di Nusantara (termasuk Jawa) berasal dari Arab. Melalui simposium nasional bertajuk “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara” yang digelar sejak 1960-an sejumlah argumentasi disusun rapi. Hasilnya? Islam di Nusantara datang langsung dari Arab bahkan Mekkah yang dibawa para syarif, sayyid, syeikh dan habib —sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa. Jauh sebelum bangsa Arab menjamah Jawa, orang-orang China Islam sudah menunjukkan eksistensinya sebagai kelas menengah bergengsi di pulau ini. Hanya saja, jejak historis China Islam ini diabaikan begitu saja. Tetapi kebenaran fakta sejarah tidak dapat dielakkan meski runtuh berkeping-keping. Ini bukan rekonstruksi baku karena memang sejarah tidak bisa “diba­kukan” meski dapat “dibukukan”.

Arus Balik telah mengisahkan jejak-jejak historis China Islam yang tidak bisa dielakkan. Pram, dengan gayanya sendiri seolah ingin mengatakan pada publik ramai bahwa: sejarah jangan ditutup-tutupi. Maka, Pram pun bertutur secara blak-blakan mengenai “agen-agen sejarah” perjalanan Jawa sepanjang abad ke-16. Pram tidak hanya bertutur tentang heroiknya orang-orang yang membela “martabat” Jawa seperti kasus Wiranggaleng, tentang perjuangan tak kenal lelah Babah Liem Mo Han, tentang ketulusan hati Rama Cluring dan Sunan Bonang, tentang pembelaan martabat perempuan yang tampil dalam figur Nyai Gede Kati dan Idayu dan seterusnya. Pram juga bercerita tentang Ambivalensi Adipati Tuban Arya Tejo, tentang oportunisme dan kebejatan Sayid Habibullah Almasawa, tentang kelicikan Sunan Rajeg. Dalam Arus Balik Pram mengajarkan tentang realitas hidup yang memang tidak lepas dari tipu muslihat, dari kelicikan. Maka waspada menjadi kata kunci. Tipu muslihat dan kelicikan itu tidak hanya datang dari “luar” yang asing tapi juga dari “dalam” yang akrab. Karena tipu muslihat itu pula orang-orang petani desa akhirnya menjadi korban propaganda Sunan Rajeg alias Ronggo Ishak. Dan karena kurang waspada, Adipati Tuban berhasil “dikencingi” Sayid Habibullah al-Masawa. Tapi baik Sunan Rajeg maupun si Sayid pada akhirnya mejadi korban kelicikan dan tipu muslihat yang ia pasang sendiri. Dan justru yang menghabisi keduanya adalah orang-orang desa yang semula ia anggap bodoh. Di sini Pram lantas berpetuah, “kesalahan orang-orang pandai adalah menganggap orang lain bodoh dan kesalahan orang-orang bodoh adalah menganggap orang lain pandai” (Arus Balik, 246).

Pram, dalam novel sejarah Arus Balik setebal 760 halaman ini seolah ingin mengatakan bahwa kemunduran Jawa berakar kuat pada perangkap-perangkap tipu muslihat yang dimainkan/dipasang para “agen sejarah lokal” sendiri (baca, Jawa) dan bukan orang asing seperti Portugis/Peranggi. Narasi sejarah yang digambarkan begitu apik. Sebagaimana karya yang lain, dalam Arus Balik ini Pram juga mengandalkan kekuatan bahasa dan imajinasinya. Keduanya menjadi wahana gaya bercerita Pram yang dengan kemahiran kepujanggaannya mampu menjalin dan memilin-milin fakta dan fiksi sambil tetap bersikukuh pada hakekat kebenaran sejarah. Melihat realitas getir di Jawa ini, Pram bukan menangisi kebesaran masa lalu, tidak pula merindukan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgia dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah merupakan cermin paling jernih, referensi terpercaya untuk suatu perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Itulah isi paling substansial Pram bila ia mengorek-ngorek sejarah. Di situlah kecintaannya pada rakyat dan tanah tumpah darahnya begitu kuat meski rezim mengerdilkannya.

Karena itu sejarah harus diungkap secara jujur, termasuk sejarah islamisasi. Jangan karena kebencian terhadap China kemudian memusnahkan seluruh warisan kultural yang pernah digoreskannya. Harus diakui bahwa China tidak melulu berwajah Budha atau Konghucu saja tapi juga ada China yang berwajah Islam. Ini harus diapresiasi secara jujur. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengakui eksistensi sejarahnya?

 

Daftar Pustaka

Atmodarminto, R. Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik. Jakarta, 2000

Babad Tanah Djawi, Balai Pustaka (Seri No. 1289), 24 Jilid, Jakarta, 1939-1941

Broomhall, M. Islam in China: A Neglected Problem. London, 1905

Budiman, Amen, Masyarakat Islam China di Indonesia. Semarang, 1979

Choy, Lee Khoon, Indonesia Between Myth and Reality. Singapura, 1977

Djajadiningrat, Hosein. Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten. Jakarta, 1983

Edel, J. Hikayat Hasanuddin. Meppel, 1938

Graaf, H.J. & Pigeaud, Chinese Muslims in Java in the 15th & 16th Centuries: The Malay Annals of Semarang and Cerbon, Monash Paper on Southeast Asia, 12, 1984

_____, Islamic State in Java 1500-1700: A Summary, Bibliography and Indez, KITLV, 1976

Groendeveldt, W.P., Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta, 1960

Hirth, F & Rockhill, W.W. Chau Ju Kua: His Works on The Chinese and Arab Trade in The 12th & 13th Centuries, Taipei, 1965

Joe, Liem Thian. Riwayat Semarang. Semarang, t.th.

Kuwabara, Jitsuo. “On P’u Shou Keng with a General Sketch of The Arabs and China”, dalam Memoir of the Research Department of the Toyo Bunko, ii, 1928

Lan, Nio Joe. Tiongkok Sepandjang Abad. Jakarta, 1952

Laporan Akhir Penelitian tentang Menelusuri Jejak-jejak Sejarah Islam di Kotamadya Semarang, Semarang, 1997/1998

Lin, Lo Hsiang. “Islam in Canton in the Sung Period: Some Fragmentary Records”, dalam F.S. Dranke & Wolrfarm (ed.), Symposium on Historical Archeological and Linguistics: Studies on Southern China, Southeast Asia and the Hong Kong Region. Hong Kong, 1967

Lombard, Dennys. Nusa Jawa Silang Budaya. Jakarta, 1996

Ma, Ibrahim Tien Ying. Perkembangan Islam di Tiongkok. Jakarta, 1979

Mills, J.V.G. Ying-yai Sheng-lan: “The Overall Survey of the Ocean’s Shores, Edited by Feng Ch’eng Chun. Cambridge, 1970

Muljana, Slamet. Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara. Jakarta, 1968

Palindungan, M.O.,.Tuanku Rao, Penerbit Tandjung Pengharapan, 1969

Pires, Tome. Suma Oriental (2 jilid). Edited by Armando Cortesao. London, 1944

Seong, Tan Yeok. Chinese Element in the Islamization of Southeast Asia: A Study of the Strange Story of Njai Gede Pinatih the Grand Lady of Gresik. Taipei, 1963

Serat Kandaning Ringgit Purwa, Menurut Naskah Tangan LOr 6379 Perpustakaan Universitas Leiden. Disalin oleh Marsono

Toer, Pramodya Ananta. Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad ke-16. Jakarta, 2001.

Wardi, S.. Koempoelan Cerita Lama dari Kota Wali. Penerbit Wahju, 1950

Zen, Thoyib. Manaqib Wali Tujuh di Bali dan Raja-raja Islam di Indonesia. Kediri, 1998

Zhi, Kong Yuan, Sam Po Kong dan Indonesia, tt., 1996

 

Catatan Akhir

[1] Terjemahan bebas teks ini adalah “Di negeri ini (maksudnya, Jawa) ada tiga golongan orang: 1) orang Muslim (huihui ren/”Mohammedan) yang berasal dari berbagai negeri di Barat (catatan: kata “Barat” di sini mengacu pada kawasan India, Gujarat, Malabar, Benggala, dll) yang datang untuk berdagang, cara berpakaian, makanan dan segala sesuatunya sudah sangat pantas; 2) orang China (tangren) dari Guangdong (Kanton, Zhangzhou, Quangzhou (kedua tempat terakhir berada di Fukien, tidak jauh dari Amoy) serta tempat-tempat lain di China yang telah melarikan diri dan menetap memeluk agama Islam dan taat menjalankan aturan-aturan agama serta berpuasa; dan 3) orang pribumi, penampilannya buruk, tak beradat, mereka bepergian tanpa menyisir rambutnya dan tak beralas kaki, mereka juga menyembah setan/demit (teks Buddha menyebutnya sebagai “negara setan”), makanan mereka kotor dan buruk, mereka makan ular, semut dan serangga lain serta cacing/ulat tanpa dimasak terlebih dulu, mereka tidur dan makan bersama anjing-anjingnya tanpa jijik sedikitpun”).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *