Pantekostalisme dan Islam: Berjumpa di Mimbar Gereja

Pdt. Elia Tambunan S.Th, M.Pd[1]

Pendahuluan

Di negeri ini, ketika bicara Islam dan Kristen seolah-olah otak kita langsung terbingkai dalam logika; mayoritas berhadap-hadapan dengan minoritas. Lalu, konsepsi yang mengikuti selanjutnya seringkali; minoritas harus mengalah dan berkorban, mayoritas harus selalu menang dan acapkali mau menang sendiri.[2]  Tidak heran, Myengkyo Seo mengolok-olok kita, ketika hari ini “kita bicara Indonesia kontemporer,[3] praktek perselisihan agama merupakan salah satu diskusi akademik yang paling hangat dan tidak bosan-bosannya.[4] Jika hal itu benar adanya, maka artinya ketika bicara soal kedua komunitas beragama ini, seolah lebih banyak konflik ketimbang damainya. Seolah tidak lagi ada alternatif perjumpaan[5] lain. Di mana lagikah kita bisa bertemu muka dan saling memandang mata untuk melihat ke dalam isi hati, yang niatnya memang betul-betul ihklas dan ridlo untuk saling memuliakan?

Memang, setiap orang beragama diwarisi panggilan dakwah atau menginjili masyarakat. Namun, penting untuk ditimbang-timbang secara arif, bagaimana caranya bila keadaan masyarakat itu memang sudah sangat berbeda teks agama, selebrasi, ekspresi dan pengalaman keagamaanya? Bagaimana lagi cara lain yang bisa ditempuh untuk mengkomunikasikan sistem nilai iman masing-masing supaya “sampai bisa dipahami orang lain? Bagaimana pula cara menebarkan nilai ketuhanan setara dengan kemanusiaan ke orang yang beda keyakinan? Masihkah ada contoh nyata yang bisa disodorkan disini?

Kali ini secara empiris, saya ingin tunjukkan adanya secuil laku dari orang-orang Pentakosta dan Islam di Indonesia[6] yang secara tulus dan bebas lepas untuk beragama, yakni; ustazd bisa jadi “imam sholat” di gereja, ustadz bisa bertausiah dan syiar di gereja dengan bebas lepas secara alami, tanpa direkayasa atau dibuat-buat. Continue reading

Islam & Politik di Komunitas Muslim: Analisis Historis-Kritis

Abraham S. Wilar

Ketua Asosiasi Teolog Indonesia (ATI)

 

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan suatu deskripsi historis-kritis-analitis tentang Islam dan Politik di Komunitas Muslim. Artinya, deskripsi tulisan ini akan mengacu ke sejumlah fakta-fakta historis yang terdapat di sejarah Islam, dan sejarah dunia. Di saat merujuk fakta-fakta historis tersebut, tulisan ini menggunakan perspektif pilihan penulis sebagai angle ulasan, yaitu historis-kritis-analitis. Akibatnya, deskripsi yang ada di tulisan ini akan mengandung ‘subyektivitas’ penulis, yang mungkin berbeda dengan deskripsi dari penulis lain yang membahas topik serupa yang akan pembaca temukan di tempat lain, yaitu historis, kritis, dan analitis.

Karena tulisan ini sejak awalnya merupakan suatu deskripsi historis-kritis-analitis tentang Islam dan Politik di Komunitas Muslim, maka isi dan format tulisan akan mengambil periode mula-mula dari Komunitas Muslim sebagai Titik Berangkat ulasan, dan kemudian ulasan akan menjangkau Komunitas Muslim di Indonesia, khususnya anggota dari kelompok Muslim yang aktif di arena politik Indonesia dengan menggunakan Keislaman sebagai Titik Pijak dan Sumber Teori dan Praktek Politik di negeri ini. Dengan kata lain, tulisan ini menggunakan formula Pembabakan dari metode historika, dan di dalam mengurai informasi-informasi historis itu tulisan ini akan menggunakan formula analitis-kritis.

Tulisan ini akan memaparkan Islam & Politik di Era Kontemporer sebagai Latarbelakang untuk mengurai materi ini. Memulai uraian dengan membahas Islam dan Politik di Era Kontemporer berguna untuk meneropong akar-akar atau ide-model yang ada di periode mula-mula, dan dari sana melihat perkembangan dari topik ini sejak periode tersebut sampai ke era kontemporer. Dengan demikian, tulisan ini berusaha melihat fenomena Islam & Politik di tengah komunitas Muslim lebih luas, dan lebih utuh; tidak hanya memusatkan Islam & Politik hanya pada satu kelompok atau periode saja. Continue reading

Islam di Tiongkok dan China Muslim di Jawa Pada Masa Pra-Kolonial Belanda

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Anthropology Proffesor di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Saudi Arabia

 

Saya ingin mengawali orasi kebudayaan ini dengan mengutip sebuah teks klasik China dalam buku Ming Shi (“Sejarah Dinasti Ming”) dan Ying-yai Shen-­lan mengenai masyarakat China yang bermukim di Jawa, yakni orang-orang dari Kanton (Kwangchou), Zhangzhou (Chang-chou), Quanzhou (Chuan-chou) dan kawasan China Selatan yang telah meninggalkan Tiongkok dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir sebelah timur terutama Tuban, Gresik dan Surabaya. Menurut kedua teks ini, kebanyakan dari orang-orang China yang mendiami pesisir utara Jawa Timur pada awal abad ke-15 tersebut berkehidupan sangat layak serta —dan ini yang paling menarik— sebagian di antara mereka telah memeluk agama Islam dan taat beribadah (Mills, 1970:93; Groendeveldt, 1960:49). Berikut kutipan teks Ying-yai Sheng-lan yang ditulis oleh seorang China Muslim bernama Ma Huan:

 

“In this country there are three kinds of people: 1) the Mohammedans, who have come from the west and have established themselves here, their dress and food is clean and proper; 2) the Chinese, being all people from Canton, Chang-chou, Ch’uan-chou (the later two places situated in Fukien, not far from Amoy) who have run away and settled here, what they eat and use is also very fine and many of them have adopted the Mohammedan religion and observe its precepts; 3) the natives, who are very ugly and uncouth, they go about with uncombed heads and naked feet and believe devoutly in devils, theirs being one of the countries called devil-countries in Buddhist books. The food of these people is very dirty and bad, its for instance snakes, ants and all other of insects and worms, which are kept a moment before the fire and than eaten; the dog; then have in their houses eat and sleep together with them, without being disgusted at all”.[1]

 

Kesaksian Ma Huan mengenai orang-orang China dari Kanton, Zuangzhou dan Quanzhou yang telah memeluk agama Islam di atas sebetulnya bukanlah hal aneh, mengingat daerah-daerah tersebut di China sendiri merupakan kantong-kantong umat Islam sebagai akibat persinggungan antara China dengan Arab. Lo Hsiang Lin dalam studinya “Islam in Canton in the Sung Period” menyebut­kan bahwa orang China telah mengenal Islam sejak masa-masa paling awal dari perkembangan agama ini, yakni abad ke-7 M. Chinese Annals dari Dinasi Tang (618-960) juga mencatat adanya pemu­kiman umat Islam di Kanton, Zhangzhouw, Quanzhou dan pesisir China Selatan lain. Ada banyak buku yang telah mengulas tentang sejarah perkembangan Islam di Tiongkok ini. Antara lain: Islam in China (Broomhall Marshall, 1905), Muslim in China (C. Sell, 1913), History of the Muslim in China (Muhammad Fu, 1930), The Spread of Islam in China (Ibrahim Tien Yin Ma, 1970). Adapun buku-buku yang relatif baru tentang perkembangan China Muslim kontemporer di Tiongkok dapat dibaca dalam beberapa karya akademik yang ditulis antropolog Dru Gladney, al, (1) Muslim Chinese dan (2) Dislocating China. Continue reading

Ateisme, Teisme, dan Bahasa

Oleh: Donny Danardono

Pengajar filsafat di FH dan PMLP Unika Soegijapranata

 

Hubungan antara manusia dengan ‘realitas adi-duniawi’ sesungguhnya tak hanya melalui konsep transendensi Tuhan transendens atau ateisme―konsep yang menolak keberadaannya itu. Di berbagai agama Timur―seperti Hinduisme, Buddhisme, Daoisme atau Kejawen―hubungan antara manusia dengan ‘realitas adi-duniawi’ berlangsung baik dalam bentuk monisme (Tuhan dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan) maupun dualisme (Yin-Yang, sehingga dalam hidup seseorang harus mengupayakan keselarasan. Keselarasan adalah Dao, jalan, asal-usul, atau hakekat realitas).

Tema mengenai “Tuhan transendens dan ateisme” memang menarik. Sebab topik inilah yang senantiasa mewarnai cara manusia modern-rasional berhubungan dengan sesama manusia dan lingkungan alamnya. Bagi mereka persoalan Tuhan bukan hanya persoalan iman, tapi juga rasio.

Transendensi Tuhan

Adalah bangsa Israel―yang seumur-umur pernah menjadi budak bangsa Mesir―yang pertama kali memunculkan konsep transendensi Tuhan. Bangsa Israel merasa, bahwa Yahwe melalui nabi Musa telah membebaskan mereka dari perbudakan itu. Bahkan setelah itu mereka menganggap Yahwe senantiasa menyertai 40 tahun pengembaraan mereka dan menghantarkan mereka ke tanah terjanji.

Pada saat itu Yahwe belum menjadi satu-satunya Allah. Ia menjadi satu-satunya Allah melalui berbagai peristiwa kekerasan yang menimpa bangsa Yahudi, yaitu ketika mereka kehilangan Kenisah di Yerusalem dan tanah terjanji itu. Continue reading

Islam dan Seksualitas: Tentang Prostitusi dalam Literatur Fikih

Oleh: Khoirul Anwar

Bagi yang akrab dengan literatur keislaman klasik (baca: kitab kuning) akan dengan mudah menjumpai keterangan tentang kehidupan seksualitas lelaki yang memiliki porsi lebih banyak dibanding perempuan, bahkan seksualitas perempuan nyaris tidak mendapat halaman dalam kitab-kitab yang ditulis puluhan abad silam itu. Dalam literatur hukum Islam (fikih) terdapat pembahasan tentang perempuan pemuas seks lelaki atau biasa disebut dengan “ammat” atau “milku al-yamîn”.

Asy-Syâfi’î dalam karya fikihnya, al-Umm, mengatakan; “Fa lâ yahillu al-‘amalu bi adz-dzakari illâ fî az-zaujati au fî milki al-yamîn (lelaki tidak boleh memainkan alat kelaminnya kecuali kepada istri atau budak yang dimilikinya)”.[1] Pernyataan demikian berdasarkan pada QS. Al-Mu`minûn 5-6: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap ‘isteri-isteri’ mereka atau ‘budak’ yang mereka miliki (mâ malakat aimânuhum).”

Melalui ayat ini asy-Syâfi’î juga merumuskan hukum seorang perempuan tidak boleh melakukan hubungan intim dengan budak lelaki yang dimilikinya, karena posisi perempuan adalah orang yang dinikahi (mankûhah), bukan orang yang dapat menikahi (nâkihah). Jadi, hukum boleh menyalurkan hasrat seksual kepada “manusia yang dimiliki (milku al-yamîn)” tertentu bagi kaum lelaki.

Dalam teks keislaman, perempuan diposisikan sebagai objek (maf’ûl) bagi lelaki, sehingga pantas jika dalam persoalan ini asy-Syâfi’î memberikan hukum tidak setara antara lelaki dan perempuan. Continue reading