Islamisme, Pos-Islamisme dan Islam Sipil

Oleh: Tedi Kholiludin

 

Menulis Ulang Ide Tibi

Argumen utama buku “Islamism and Islam” karya Bassam Tibi langsung dinyatakan di awal pengantar. Menurut Tibi, Islam sebagai keyakinan dan Islamisme sebagai kategori politik keagamaan adalah dua entitas yang berbeda. Islamisme, kata Tibi, bukanlah bagian dari Islam. Islamisme merupakan tafsir politis atas Islam. Dasar dari Islamisme bukan pada Islam (sebagai keyakinan), tetapi pada penerapan ideologis atas agama di ranah politik.[1] Buku yang awalnya terbit pada tahun 2012 ini bermaksud untuk menjelaskan perbedaan antara Islam dan Islamisme tersebut.

Islamisme, tidak hanya sekadar masalah politik. Lebih jauh, Islamisme berkaitan dengan politik yang diagamaisasikan (religionized politics) dan oleh Tibbi, model tersebut ditengara sebagai contoh yang paling kuat dari global phenomenon of religious fundamentalism.[2] “Religionized Politics” adalah model dimana sekelompok masyarakat menawarkan sebuah tatanan politik yang diyakininya sebagai kehendak Allah. Tibi menolak keras model ini. Menurutnya, Islam memang “…menyiratkan nilai-nilai politis tertentu namun tidak mensyaratkan suatu tata pemerintahan khusus.”[3] Islamisme bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk tafsir terhadap Islam, tetapi bukanlah Islam itu sendiri, karena ia adalah sebentuk ideologi politik.

Tibi mengelaborasi enam ciri utama dengan ideologi Islamisme. Pertama, interpretasi atas Islam sebagai nizam Islami. Dalam pandangan kaum Islamis, Islam adalah din-wa-daulah; agama bersatu dengan negara. Tibi menegaskan bahwa ide dasar yang menjadi pokok dan gagasan utama kelompok Islamis terletak pada keyakinannya tentang kesatuan agama dan negara ini. Ia mengkritik beberapa kecenderungan analis yang melihat Islamisme sebagai semata-mata “Islam Radikal.” Padahal jantung dari ideologi Islamisme ini sesungguhnya ada dalam “its quest for political order.”[4] Jika ide mengenai negara Islam ini belum ditinggalkan, maka orang belum bisa berbicara  banyak tentang masyarakat “Pos-Islamisme.”[5] Continue reading